PENDIDIKAN AQIDAH DALAM ISLAM



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
I.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
I.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
I.3 Tujuan Makalah ........................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................... 2
II.1. PENGERTIAN DAN LANDASAN AQIDAH ................................... 2
II.1.1. Pengertian Aqidah Islam ............................................................... 2
II.1.2. Landasan Filosofis Aqidah Islam .................................................. 4
II.1.3. Landasan Religius Aqidah Islam .................................................. 6
II.2. RUANG LINGKUP, KAIDAH SERTA FUNGSI AQIDAH ISLAM................... ..8
II.2.1. Ruang Lingkup Pembahasan Aqidah ............................................ 8
II.2.2. Delapan Kaidah Aqidah ................................................................ 9
II.2.3. Fungsi Kaidah ............................................................................... 10
BAB III KESIMPULAN  ................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 13


BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
Aqidah adalah pokok-pokok keimanan yang telah ditetapkan oleh Allah, dan kita sebagai manusia wajib meyakininya sehingga kita layak disebut sebagai orang yang beriman (mu’min). Namun bukan berarti bahwa keimanan itu ditanamkan dalam diri seseorang secara dogmatis, sebab proses keimanan harus disertai dalil-dalil aqli. Akan tetapi, karena akal manusia terbatas maka tidak semua hal yang harus diimani dapat diindra dan dijangkau oleh akal manusia.
Para ulama sepakat bahwa dalil-dalil aqli yang haq dapat menghasilkan keyakinan dan keimanan yang kokoh. Sedangkan dalil-dalil naqli yang dapat memberikan keimanan yang diharapkan hanyalah dalil-dalil yang qath’i.
Makalah kecil ini menampilkan beberapa bahasan yang bisa membantu siapa saja yang ingin memahami aqidah.

II.2. Rumusan Masalah
1.      Apa aqidah itu?
2.      Apa landasan filosofis dan religiusnya?
3.      Apa saja ruang lingkup aqidah?
4.      Apa kaidah dari aqidah?
5.      Apa fungsi aqidah?

II.3. Tujuan Makalah
1.      Menjelaskan pengertian aqidah
2.      Menjelaskan landasan filosofis dan religiusnya
3.      Menerangkan tentang ruang lingkup aqidah
4.      Memaparkan delapan kaidah aqidah
5.      Menyampaikan fungsi utama aqidah



BAB II
PEMBAHASAN

II.1. PENGERTIAN DAN LANDASAN AQIDAH
II.1.1. Pengertian Aqidah Islam
Secara etimologi (lughatan), aqidah berakar dari kata ‘aqada - ya’qidu - ‘aqdan yang berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Setelah terbentuk menjadi aqidah berarti keyakinan.[1] Relevansi antara arti kata aqdan dan aqidah adalah keyakinan itu tersimpul dengan kokoh di dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian.
            Secara terminologis (isthilahan), terdapat beberapa definisi (ta’rif) antara lain:
1.      Menurut Hasan al-Banna:
العقائد هي الأمور التى يجب أن يصدق بها قلبك وتطمئن اليها نفسك وتكون يقينا عندك لا يمازجه ريب ولايخالطه شك
            “Aqidah adalah beberapa perkara yang wajib diyakini keberadaannya oleh hatimu, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan”[2]
2.      Munurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy:
العقيدة هي مجموعة من قضايا الحق البدهية المسلمة بالعقل, والسمع والفطرة, يعقد عليها الإنسان قلبه, ويثنى عليها صدره جازما بصحتها, قاطعا بوجودها وثبوتها لايرى خلافها أنه يصح أو يكون أبدا
            “Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum (axioma) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fithrah. (Kebenaran) itu dipatrikan oleh manusia di dalam hati serta diyakini kesahihan dan kebenarannya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu”[3]
            Untuk lebih memahami kedua definisi di atas maka perlu dikemukakan beberapa catatan tambahan:
1.      Ilmu terbagi dua: pertama ilmu dharuri, kedua ilmu nazhari. Ilmu yang dihasilkan oleh indera, dan tidak memerlukan dalil disebut ilmu dharuri. Misalnya anda melihat meja di hadapan mata, anda tidak lagi memerlukan dalil atau bukti bahwa benda itu ada. Sedangkan ilmu yang memerlukan dalil atau pembuktian itu disebut ilmu nazhari. Misalnya 1+1=2, tentu perlu dalil untuk orang yang belum tahu teori itu. Di antara ilmu nazhari itu, ada hal-hal yang karena sudah sangat umum dan terkenal maka tidak memerlukan lagi adanya dalil, misalnya sepeda bannya ada dua sedangkan mobil bannya ada empat, tanpa dalil siapapun pasti mengetahui hal tersebut. Hal inilah yang disebut badihiyah. Badihiyah adalah segala sesuatu yang kebenarannya perlu dalil pembuktian, tetapi karena sudah sangat umum dan mendarah daging maka kebenaran itu tidak perlu pembuktian lagi.
2.      Setiap manusia memiliki fithrah mengakui kebenaran (bertuhan), indera untuk mencari kebenaran, akal untuk menguji kebenaran dan memerlukan wahyu untuk menjadi pedoman menentukan mana yang benar dan mana yang tidak. Tentang Tuhan, misalnya, setiap manusia memiliki fithrah bertuhan, dengan indera dan akal dia bisa buktikan adanya Tuhan, tapi hanya wahyulah yang menunjukkan kepadanya siapa Tuhan yang sebenernya.
3.      Keyakinan tidak boleh bercampur sedikitpun dengan keraguan. Sebelum seseorang sampai ke tingkat yakin dia akan mengalami lebih dahulu Syak (50%-50% antara membenarkan dan menolak), kemudian Zhan (salah satu lebih kuat sedikit dari yang lainnya karena ada dalil yang menguatkan), kemudian Ghalabatuz Zhan (cenderung menguatkan salah satu karena dalilnya lebih kuat, tapi masih belum bisa menghasilkan keyakinan penuh), kemudian Ilmu/Yakin (menerima salah satu dengan sepenuh hati karena sudah meyakini dalil kebenarannya). Keyakinan yang sudah sampai ke ringkat ilmu inilah yang disebut aqidah.
4.      Aqidah harus mendatangkan ketenteraman jiwa. Artinya lahiriyah seseorang bisa saja pura-pura meyakini sesuatu, akan tetapi hal itu tidak akan mendatangkan ketenangan jiwa karena dia harus melaksanakan sesuatu yang berlawanan dengan keyakinannya. Kawin paksa misalnya, hidup satu rumah dengan orang yang tidak pernah dia sukai, secara lahiriyah hubungan mereka telah sukses karena berakhir dipelaminan namun jiwa mereka tidaklah tenteram seperti kelihatan.
5.      Bila seseorang sudah meyakini suatu kebenaran, dia harus menolak segala yang bertentangan dengan kebenaran itu. Artinya seseorang tidak akan bisa meyakini sekaligus dua hal yang bertentangan. Misalnya ada meyakini gula itu rasanya manis, tentunya anda akan menolak untuk meyakini bahwa gula itu rasanya asin, tidak mungkin anda yakin bahwa gula itu rasanya manis dan asin.
6.      Tingkat keyakinan (aqidah) seseorang tergantung kepada tingkat pemahamannya terhadap dalil. Misalnya:
-          Anda akan meyakini adanya beasiswa bila anda mendapatkan informasi tentang beasiswa tersebut dari orang yang anda kenal tidak pernah berbohong.
-          Keyakinan itu akan bertambah apabila anda mendapatkan informasi yang sama dari beberapa orang lain, namun tidak menutup kemungkinan bahwa anda akan meragukan kebenaran informasi itu apabila ada syubuhat (dalil dalil yang menolak informasi tersebut).
-          Bila anda melihat pengumuman beasiswa di fakultas maka bertambahlah keyakinan anda sehingga kemungkinan untuk ragu semakin kecil
-          Apabila anda diberi formulir pengajuan beasiswa maka keyakinan anda semakin bertambah dan segala keraguan akan hilang bahkan anda tidak mungkin ragu lagi bahkan anda tidak akan merubah pendirian anda sekalipun semua orang menolaknya
-          Ketika anda bolak balik mengurus segala yang terkait dengan beasiswa maka bertambahlah pengetahuan dan pengalaman anda tentang beasiswa yang diyakini tadi.

II.1.2. Landasan Filosofis Aqidah Islam
            Pada hakikatnya filsafat dalam bahasan aqidah tetap bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah.
            Allah mengutus (Rasul) yang membawa pesan dari-Nya untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Pesan Allah itu ditulis dalam Al-Kitab (Al-Qur’an). Allah menganugerahkan kebijakan dan kecerdasan berfikir kepada manusia untuk mengenal adanya Allah dengan memperhatikan alam sebagai bukti hasil perbuatan-Nya Yang Maha Kuasa. Hasil perbuatan Allah itu serba teratur, cermat dan berhati-hati. Yang menerima hikmah-hikmai inilah yang disebut “Hukuma” atau “Filosof”.[4]
           

Berikut beberapa pendapat para filosof barat tentang Tuhan:
-          Pendapat Xenophanes
Xenophanes menyatakan: “Tuhan hanya satu, yang terbesar di antara dewa dan manusia, tidak serupa dengan makhluk yang fana.
Tuhan Yang Esa itu tidak dijadikan tidak bergerak dan berubah-ubah, dan ia mengisi seluruh alam. Dia melihat semuanya, mendengar semua dan memikirkan seluruhnya. Mudah sekali Ia memimpin alam ini dengan kakuatan fikirNya.
-          Pendapat Socrates
Socrates menyatakan: “Tuhan pencipta ala mini bukanlah hanya untuk memikirkan dan memperhatikan manusia saja, tapi ialah roh bagi manusia. Jika tidak begitu cobalah sebutkan padaku, hewan manakah yang dapat mengetahui adanya Tuhan yang mengatur susunan tubuh yang mempunyai sifat-sifat tinggi seperti ini! Coba katakana hewan mana selain manusia yang dapat dibawa akalnya menyembah dan berkhidmah kepada Tuhan?
-          Pendapat Descartes
Descartes menyatakan: “Saya tidak menjadikan diri saya sendiri. Sebab kalau saya menjadikan, tentulah saya dapat memberikan segala sifat kesempurnaan kepada diri saya itu. Oleh sebab itu tentu saya dijadikan oleh Dzat yang lain. Dan sudah pasti pula Dzat lain itu menjadikan saya mempunyai sifat-sifat kesempurnaan, kalau tidak akan sama halnya dengan diri saya.
Saya selalu merasa diri saya dalam kekurangan, dan pada waktu itu juga diri saya merasa tentu ada Dzat yang tidak kekurangan, yakni sempurna. Dan Dzat yang sempurna itu ialah Allah[5]
Mari kita kaji Al-Qur’an lalu kita perhatikan kandungannya, bahwa apa yang dinyatakan oleh para filosof di atas, semakna dengan apa yang dinyatakan oleh Allah di dalam Al-Qur’an:
óOs9urr& ttƒ ß|¡RM}$# $¯Rr& çoYø)n=yz `ÏB 7pxÿõÜœR #sŒÎ*sù uqèd ÒO‹ÅÁyz ×ûüÎ7B ÇÐÐÈ   z>uŽŸÑur $oYs9 WxsWtB zÓŤtRur ¼çms)ù=yz ( tA$s% `tB ÄÓ÷ÕムzsàÏèø9$# }Édur ÒÏBu ÇÐÑÈ   ö@è% $pÍósムüÏ%©!$# !$ydr't±Sr& tA¨rr& ;o§tB ( uqèdur Èe@ä3Î/ @,ù=yz íÎ=tæ ÇÐÒÈ  
Dan Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!
Dan ia membuat perumpamaan bagi kami; dan Dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?"
Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk. [QS.36:77-79].
̍ÝàYuù=sù ß|¡RM}$# §NÏB t,Î=äz ÇÎÈ   t,Î=äz `ÏB &ä!$¨B 9,Ïù#yŠ ÇÏÈ   ßlãøƒs .`ÏB Èû÷üt/ É=ù=Á9$# É=ͬ!#uŽ©I9$#ur ÇÐÈ   ¼çm¯RÎ) 4n?tã ¾ÏmÏèô_u ÖÏŠ$s)s9 ÇÑÈ  
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari Apakah Dia diciptakan?
Dia diciptakan dari air yang dipancarkan,
yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.
Sesungguhnya Allah benar-benar Kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). [QS.86:5-8]
            Dari uraian di atas, nyatalah bahwa pada hakikatnya landasan aqidah Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah.
II.1.3. Landasan Religius Aqidah Islam
Sumber aqidah Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Artinya apa saja yang disampaikan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan oleh Rasulullah dalam Sunnahnya wajib diimani (diyakini dan diamalkan).[6]
            Akal pikiran tidaklah menjadi sumber aqidah, tetapi hanya berfungsi memahami nash-nash yang terdapat dalam kedua sumber tersebut dan mencoba –kalau diperlukan – membuktikan secara ilmiah kebenaran yang disampaikan Al-Qur’an dan Sunnah. Itupun harus didasari oleh suatu kesadaran bahwa kemampuan akal sangat terbatas. Sesuatu yang terbatas/akal tidak akan mampu menggapai sesuatu yang tidak terbatas. Misalkan, saat ditanya, kekal [sesuatu yang tidak terbatas] itu sampai kapan?, maka akal tidak akan mampu menjawabnya karena akal itu terbatas.
            Aqidah itu mempunyai sifat keyakinan dan kepastian sehingga tidak mungkin ada peluang bagi seseorang untuk meragukannya. Dan untuk mencapai tingkat keyakinan ini, aqidah Islam wajiblah bersumber pada dua warisan tersebut [Al-Qur’an Hadits] yang tidak ada keraguan sedikit pun padanya. Dan akal bukanlah bagian dari sumber yang tidak ada keraguan padanya.
Dengan kata lain, untuk menjadi sumber aqidah, maka asal dan indikasinya haruslah pasti dan meyakinkan, tidak mengandung sedikut pun keraguan. Jika kita memandang Al-Qur’an dari segi wurud, maka ia adalah pasti lagi meyakinkan karena telah ditulis selagi Rasulullah masih hidup dan juga dihafal serta sejumlah besar sehabat yang mustahil mereka sepakat berdusta untuk memalsukannya. Dan juga karena itu, tidak pernah timbul perselisihan tentang kesahihan Al-Qur’an di kalangan umat Islam sejak dahulu hingga sekarang.[7] Tidak pernah ada yang berbeda pendapat bahwa Tuhan itu ada, bahwa Tuhan itu satu, bahwa Tuhan itu mahakuasa.
            Aqidah atau iman itu mempunyai peran dan pengaruh dalam hati. Ia mendorong manusia untuk melakukan amal-amal yang baik dan meninggalkan perbuatan keji dan mungkar. Ia mengawal dan membimbing manusia ke jalan yang lurus dan benar serta menjaganya untuk tidak tergelincir ke dalam lembah kesesatan; dan juga menanamkan dalam dirinya kecintaan kepada kebenaran dan kebaikan. Sesungguhnya hidayah Allah hanya diberikan kepada manusia yang hatinya telah dimasuki iman.[8]
            Allah berfirman dalam Surat al-Taghabun/64:11 :
. . . ومن يؤمن بالله يهد قلبه . . .(التغابن 11)
“Dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi hidayah kepada hatinya.”
Pada hakikatnya, iman yang dalam hati itu atau aqidah ibarat nur atau cahaya yang menerangi hati dan sangat diperlukan oleh manusia dalam kehidupannya di dunia. Tanpa cahaya itu hati sangat gelap, sehingga akan sangat mudah orang tergelincir dalam lembah maksiat. Ibarat orang yang berjalan pada waktu malam tanpa lampu atau cahaya, ia akan sangat mudah terperosok ke dalam lobang atau jurang. Demikianlah peranan iman yang merupakan bangunan bawah/fondasi utama dari kepribadian yang kukuh dan selalu mengawal serta membuat hati agar selalu baik dan bersih, sehingga dapat memberi bimbingan bagi manusia ke arah kehidupan yang tenteram dan bahagia.

II.2. RUANG LINGKUP, KAIDAH, FUNGSI SERTA MANFAAT AQIDAH ISLAM
II.2.1. Ruang Lingkup Pembahasan Aqidah
Meminjam sistimatika Hasaln al-Banna maka ruang lingkup pembahasan aqidah adalah:
1.      Ilahiyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Ilah (Tuhan, Allah) seperti wujud Allah, nama-nama dan sifat-sifat Allah, af’al Allah dan lainnya.
2.      Nubuwat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul, termasuk tentang Kitab-Kitab Allah, mu’jizat, karamat dan lain sebagainya.
3.      Ruhaniyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperti Malaikat, Jin, Iblis, Syetan, Roh dan lain sebagainya.
4.      Sam’iyyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat Sam’i (dalil naqli berupa Al-Qur’an dan Sunnah) seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga neraka dan lain sebagainya.[9]
Di samping sistimatika di atas, pembahasan aqidah bisa juga mengikuti sistimatika arkanul iman (rukun iman) yaitu:
1.      Iman Kepada Allah SWT.
2.      Iman Kepada Malaikat (termasuk juga makhluk ruhani lain seperti Jin, Iblis dan Syetan).
3.      Iman Kepada Kitab-Kitab Allah.
4.      Iman Kepada Nabi dan Rasul.
5.      Iman Kepada Hari Akhir.
6.      Iman Kepada Takdir Allah.

II.2.2. Delapan Kaidah Aqidah
1.      Apa yang saya dapat dengan indera saya, saya yakin adanya, kecuali bila akal saya mengatakan “tidak” berdasarkan pengalaman masa lalu.
Misalnya, bila saya untuk pertama kali melihat sepotong kayu di dalam gelas berisi air putih kelihatan bengkok, atau melihat genangan air di tengah jalan [fatamorgana], tentu saja saya akan membenarkan hal itu. Tapi bila terbukti kemudian bahwa hasil penglihatan indera saya salah maka untuk kedua kalinya bila saya melihat hal yang sama, akal saya langsung mengatakan bahwa yang saya lihat tidak demikian adanya.
2.      Keyakinan, di samping diperoleh dengan menyaksikan langsung, juga bias melalui berita yang diyakini kejujuran si pembawa berita.
Banyak hal yang memang tidak atau belum kita saksikan sendiri tapi kita meyakini adanya. Misalnya anda belum pernah ke Thailand, Afrika atau Yaman, tapi anda meyakini bahwa negeri-negeri tersebut ada. Atau tentang fakta sejarah, tentang Daulah Abbasiyah, Umayyah atau tentang kerajaan Majapahit, dan lain-lain, anda meyakini kenyataan sejarah itu berdasarkan berita yang anda terima dari sumber yang anda percaya.
3.      Anda tidak berhak memungkiri wujudnya sesuatu, hanya karena anda tidak bisa menjangkaunya dengan indera anda.
Kemampuan alat indera memang sangat terbatas. Telinga tidak bisa mendengar suara semut dari jarak dekat sekalipun, mata tidak bisa menyaksikan semut dari jarak jauh. Oleh karena itu, seseorang tidak bisa memungkiri wujudnya sesuatu hanya karena inderanya tidak bisa menyaksikannya.
4.      Seseorang hanya bisa menghayalkan sesuatu yang sudah pernah dijangkau oleh inderanya.
Khayal manusiapun terbatas. Anda tidak akan bisa menghayalkan sesuatu yang baru sama sekali. Waktu anda menghayalkan kecantikan seseorang secara fisik, anda akan menggabungkan unsur-unsur kecantikan dari banyak orang yang sudah pernah anda saksikan.
5.      Akal hanya bisa menjangkau hal-hal yang terikat dengan ruang dan waktu.
Tatkala mata mengatakan bahwa tiang-tiang listrik berjalan waktu kita menyaksikannya lewat jendela kereta api akal dengan cepat mengoreksinya. Tapi apakah akal bisa memahami dan menjangkau segala sesuatu? Tidak. Karena kemampuan akalpun terbatas. Akal tidak bisa menjangkau sesuatu yang tidak terikat dengan ruang dan waktu.
6.      Iman adalah fithrah setiap manusia.
Setiap manusia memiliki fithrah mengimani adanya Tuhan. Pada saat seseorang kehilangan harapan untuk hidup, padahal dia masih ingin hidup, fithrahnya akan menuntun dia untuk meminta kepada Tuhan. Misalnya bila anda masuk hutan, dan terperosok ke dalam lubang, pada saat anda kehilangan harapan untuk bisa keluar dari lubang tiu, anda akan berbisik “Oh Tuhan!”
7.      Kepuasan materil di dunia sangat terbatas.
Manusia tidak akan pernah puas secara materil. Seorang yang belum punya sepeda ingin punya sepeda. Setelah punya sepeda ingin punya motor dan seterusnya sampai mobil, pesawat, dan lain lain. Bila keinginan tercapai maka akan berubah menjadi sesuatu yang “biasa”, tidak ada rasa kepuasan pada keinginan itu. Selalu saja keinginan manusia itu ingin lebih dari apa yang sudah di dapatnya secara materil. Dan keinginan manusia akan dipuaskan secara hakiki di alam sesudah dunia ini.
8.      Keyakinan tentang hari akhir adalah konsekuensi logis dari keyakinan tentang adanya Allah.
Jika anda beriman kepada Allah, tentu anda beriman dengan segala sifat-sifat Allah, termasuk sifat Allah Maha Adil. Kalau tidak ada kehidupan lain di akhirat, bisakah keadilan Allah itu terlaksana? Bukankah tidak semua penjahat menanggung akibat kejahatannya di dunia ini? Bukankah tidak semua orang yang berbuat baik merasakan hasil kebaikannya?. Bila anda menonton film, ceritanya belum selesai tiba-tiba saja dilayar tertulis kalimat “Tamat”, bagaimana komentar anda? Oleh sebab itu, iman anda dengan Allah menyebabkan anda beriman dengan adanya alam lain sesudah alam dunia ini yaitu Hari Akhir.

II.2.3. Fungsi Aqidah
Aqidah adalah dasar, fondasi untuk mendirikan bangunan. Semakin tinggi bangunan yang akan didirikan harus semakin kokoh pula fondasi yang dibuat. Kalau fondasinya lemah bangunan itu akan cepat ambruk. Tidak ada bangunan tanpa fondasi.[10]
            Kalau ajaran Islam kita bagi dalam sistimatika Aqidah Ibadah Akhlak dan Mu’amalat, atau Aqidah Syari’ah dan Akhlak, atau Iman Islam dan Ihsan, maka ketiga/keempat aspek tersebut tidak bisa dipisahkan sama sekali. Satu sama lain saling terkait. Seseorang yang memiliki aqidah yang kuat, pasti akan melaksanakan ibadah dengan tertib, memiliki akhlak yang mulia dan bermu’amalat dengan baik. Ibadah seseorang tidak akan diterima oleh Allah swt kalau tidak dilandasi dengan aqidah. Misalnya orang nonmuslim memberi beras kepada seorang yang miskin, amal ibadah orang itu nilainya NOL di hadapan Allah, Allah tidak menerima ibadahnya karena orang itu tidak punya landasan aqidah.
            Seseorang bisa saja merekayasa untuk terhindar dari kewajiban formal, misalnya zakat, tapi dia tidak akan bisa menghindar dari aqidah. Misalnya, aqidah mewajibkan orang percaya bahwa Tuhan itu cuma satu yaitu Allah, orang yang menuhankan Allah dan sesuatu yang lain [uang misalnya] maka akan kelihatan nanti, tidak bisa ditutup-tutupi, tidak bisa direkayasa. Entah dari bicaranya yang seolah-olah uang telah membantu hidupnya, tanpa uang dia tidak akan nisa hidup, atau dari perilakunya yang satu minggu sekali datang ke pohon besar dan berdoa disitu.
Itulah sebabnya kenapa Rasulullah SAW selama 13 tahun periode Mekah memusatkan dakwahnya untuk membangun aqidah yang benar dan kokoh. Sehingga bangunan Islam dengan mudah berdiri di periode Madinah. Dalam dunia nyatapun ternyata modal untuk membangun sebuah bangunan itu lebih besar tertanam di fondasi.
Jadi aqidah berfungsi sebagai ruh dari kehidupan agama, tanpa ruh/aqidah maka syari’at/jasad kita tidak ada guna apa-apa.



BAB III
KESIMPULAN

Dalam keseluruhan bangunan Islam, aqidah dapat diibaratkan sebagai fondasi. Di mana seluruh komponen ajaran Islam tegak di atasnya. Aqidah merupakan beberapa prinsip keyakinan. Dengan keyakinan itulah seseorang termotivasi untuk menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya. Karena sifatnya keyakinan maka materi aqidah sepenuhnya adalah informasi yang disampaikan oleh Allah Swt. melalui wahyu kepada nabi-Nya, Muhammad Saw.
Pada hakikatnya filsafat dalam bahasan aqidah tetap bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah. Allah menganugerahkan kebijakan dan kecerdasan berfikir kepada manusia untuk mengenal adanya Allah dengan memperhatikan alam sebagai bukti hasil perbuatan-Nya Yang Maha Kuasa. Hasil perbuatan Allah itu serba teratur, cermat dan berhati-hati.
Sumber aqidah Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Akal pikiran tidaklah menjadi sumber aqidah, tetapi hanya berfungsi memahami nash-nash yang terdapat dalam kedua sumber tersebut dan mencoba –kalau diperlukan – membuktikan secara ilmiah kebenaran yang disampaikan Al-Qur’an dan Sunnah. Itupun harus didasari oleh suatu kesadaran bahwa kemampuan akal sangat terbatas. Sesuatu yang terbatas/akal tidak akan mampu menggapai sesuatu yang tidak terbatas.
Jadi aqidah berfungsi sebagai ruh dari kehidupan agama, tanpa ruh/aqidah maka syari’at/jasad kita tidak ada guna apa-apa.








DAFTAR PUSTAKA

Drs. H. Yunahar Ilyas,  Lc., Kuliah Aqidah Islam, Yogyakarta, LPPI, 1992.
Dr. Ahmad Daudy, Kuliah Aqidah Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1997.
Al-Jazairy, Abu Bakar Jabir, Aqidah al-Mukmin, Cairo, Maktabah al-Kulliyat al-Azhariyah, 1978.
Al-Banna Hasan, Majmu’atu ar-Rasail, Muassasah ar-Risalah Beirut, tanpa tahun.
Drs. Edi Suresman, A.Md., Aqidah Islam, Malang, IKIP, 1993.



[1]               Drs. H. Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, (Yogyakarta: 1992), h. 1
[2]               Al-Banna, Majmu’atu ar-Rasail,(Muassasah ar-Risalah Beirut: tanpa tahun), h. 465
[3]               Al-Jazairy, Aqidah al-Mukmin, (Cairo: 1978), h. 21
[4]               Drs. Edu Suresman, Aqidah Islam, (Malang: 1993), h. 1
[5]               Ibid, h. 21
[6]               Drs. H. Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, (Yogyakarta: 1992), h. 6
[7]               Dr. Ahmad Daudy, Kuliah Akidah Islam, (Jakarta: 1997), h. 23
[8]               Ibid, h. 25
[9]               Drs. H. Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, (Yogyakarta: 1992), h. 5
[10]             Drs. H. Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, (Yogyakarta: 1992), h. 9

Entri Populer