Periode Masa Kanak Kanak Awal (2-6 Tahun)


Periode Masa Kanak Kanak Awal (2-6 Tahun)

A.   PENDAHULUAN


Umur 2 sampai 6 tahun adalah anak usia dini (early childhood) atau tahun-tahun pra sekolah atau masa menjalani Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), baik formal maupun nonformal. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan upaya pembinaan dan dan pengembangan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun. Kegiatan itu dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
 Seperti bayi dan balita, anak-anak prasekolah tumbuh dengan cepat, baik secara fisik, kognitif maupun psikososial. Terutama terlihat pada anak usia dini adalah kenyataan bahwa perkembangannya benar-benar terintegrasi baik secara biologis, psikologis, maupun perubahan sosial yang terjadi saat ini (serta sepanjang sisa masa hidup) yang saling terkait.
 Usia prasekolah memberikan contoh luar biasa bagaimana anak-anak memainkan peran aktif dalam pengembangan kognitif mereka sendiri, khususnya dalam memahami,menjelaskan, mengorganisasikan, memanipulasi, membangun, dan memprediksi. Anak-anak prasekolah mengalami kesulitan mengendalikan perhatian mereka sendiri dan fungsi memori, bingung dalam menampilkan diri, dangkal dengan realitas, dan fokus pada satu aspek pengalaman pada suatu waktu. Anak-anak sekolah cenderung membuat kesalahan lintas budaya yang sama karena kemampuan kognitif yang belum matang


2.      Rumusan Masalah

a.       Bagaimana perkembangan fisik pada masa kanak-kanak awal?
b.      Bagaimana perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak awal?
c.       Bagaimana perkembangan psikososial pada masa kanak-kanak awal?

a.       Mengetahui perkembangan fisik pada masa kanak-kanak awal
b.      Mengetahui perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak awal
c.       Mengetahui perkembangan psikososial pada masa kanak-kanak awal




Masa kanak-kanak awal terjadi pada rentang usia 2 – 6 tahun, masa ini sekaligus merupakan masa prasekolah, dimana anak umumnya masuk Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak.
Seperti bayi dan balita, anak-anak prasekolah tumbuh dengan cepat, baik secara fisik, kognitif maupun psikososialnya. Dengan perubahan yang cepat itu, bukan tidak mungkin seorang yang tadinya gemuk pendek dan hampir tidak dapat berbicara tiba-tiba menjadi seorang anak yang lebih tinggi dan ramping yang mampu berbicara secara baik dan lancar.
Anak usia Taman Kanak-kanak dalam rentangan usia 4-5 atau 6 tahun berada dalam masa usia emas (golden age) segala sesuatunya sangat berharga, baik fisik, emosi dan intelektualnya. Anak usia Taman Kanak-kanak ini sangat besar energinya sehingga diperlukan suatu pembelajaran yang sangat tepat sehingga dapat berkembang kemampuan motorik kasar maupun halus.
Perkembangan fisik anak mengalami perubahan meliputi :
a.       Perubahan-perubahan dalam tubuh, seperti pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon dll.
Perubahan tubuh masa kanak-kanak awal saat usia prasekolah tumbuh lebih besar, presentase kenaikan tinggi dan berat badan menurun di tiap tahun berikutnya. Anak perempuan hanya sedikit lebih kecil dan lebih ringan daripada anak laki-laki selama tahun-tahun ini. Baik tubuh anak perempuan  maupun anak laki-laki mengecil saat batang tubuh mereka memanjang.[1] Pada umumnya masa kanak-kanak awal, rata-rata anak bertambah tinggi 6,25 cm setiap tahun, dan bertambah berat 2,5 – 3,5 kg setiap tahun. Dalam kasus ini perlu untuk diketahui bahwa setiap pola pertumbuhan fisik pada anak selalu bervariasi dan tidak sama. Ini disebabkan oleh dua faktor utama yang sangat berpengaruhi terhadap pola pertumbuhan fisik yaitu asal-usul etnis dan asupan gizi.
Selepas masa bayi ( mulai usia 2 tahun) terjadi perubahan fisik secara drastis. Perubahan yang menonjol antara lain :
1)      Wajah anak memang tetap mungil tetapi dagu agak lebih jelas dan leher tampak memanjang.
2)      Rata-rata tinggi badan anak usia 6 tahun adalah 112,5 cm, dan rata-rata berat badan anak usia 6 tahun mencapai 21 Kg.• Tubuh mereka cenderung kerucut dengan perut yang rata, tidak buncit seperti waktu banyi.
3)      Bentuk dada lebih bidang dan rata, dan bahu mereka lebih lusa dan persegi.
4)      Bentuk lengan dan kaki lebih panjang dan lebih lurus , tangan kaki lebih lurus, tangan dan kaki tumbuh lebih besarJaringan otot menjadi lebih besar , lebih kuat dan lebih berat meskipun anak terlihat lebih kurus meskipun beratnya bertambah.
5)      Gigi permanen mulai tumbuh dan anak secara bertahap kehilangan gigi desi dua.
6)      Banyaknya anak yang tidak menyukai sayuran, biasanya hanya 1 jenis makanan, yang disukai orang tua memiliki peranan penting dalam mempengaruhi pilihan anak terhadap makanan.[2]
7)      Tulang Serta Otot, Tumbuh perkembangan tulang dan otot ini tergantung kalsium atau makanan yang diserap oleh si anak.
8)      Gigi, Selama 4-6 bulan anak akan mengalami perkembangan yaitu dengan adanya pertumbuhan gigi.
b.      Perubahan-perubahan dalam cara-cara individu dalam menggunakan tubuhnya, seperti perkembangan keterampilan motorik dan perkembangan seksual).
Keterampilan umum yang sering dilakukan anak biasanya menyangkut keterampilan tangan dan kaki. Keterampilan dalam aktivitas makan dan berpakaian sendiri biasanya dimulai pada masa bayi dan disempurnakan pada masa kanak-kanak awal. Kemajuan terbesar keterampilan berpakaian antara usia 1,5 dan 3,5 tahun. Kegiatan yang cukup menyenangkan bagi masa anak ini ialah bermain-main. Selain itu cirri yang spesifik pada masa bawah tiga tahun si anak masih memiliki kelekatan emosi dengan orangtua, takut berpisah, biasanya suka membuat cerita yang tak masuk akal, suka berbohong dan egosentris.[3] Keterampilan kaki dapat dilakuan anak dengan belajar gerakan-gerakan kaki. Antar usia 3 – 4 tahun anak dapat mempelajari sepeda roda tiga dan berenang. Keterampilan kaki lain yang dikuasai anak adalah lompat tali, keseimbangan tubuh dalam berjalan di atas dinding atau pagar, sepatu roda, bermain sepatu es, menari. Pada saat anak-anak mencapai usia TK, mereka sudah harus dapat mandi dan berpakaian sendiri, mengikat tali sepatu dan menyisir rambut dengan sedikit bantuan atau tanpa bantuan sama sekali. Antara usia 5 dan 6 tahun sebagian besar anak-anak sudah pandai melempar dan menangkap bola. Mereka dapat menggunakan gunting, dapat membentuk tanah liat, bermain membuat kue-kue dan menjahit, mewarnai dan menggambar dengan pensil atau krayon dan menggambar orang.[4] Mereka juga sudah belajar melompat dan berlari cepat, dan mereka sudah dapat memanjat. Periode akhir, pada masa periode ini lah anak akan mengalami perubahan mulai dari anak berumur 6 tahun hingga anak mengalami pematangan seksual.
c.       Perubahan dalam kemampuan fisik, seperti penurunan fungsi jantung, penglihatan dan sebagainya.
1)      Pernafasan mereka lebih lambat dan dalam karena paru – paru mereka berkembang sepenuhnya.
2)      Detak jantung merka lebih pelan dan teratur dibandingkan pada saat mereka masih bayi.
3)      Khusus pada anak laki – laki tekanan darahnya meningkat.
4)      Kandung kemih, tempat menyimpan air kencing bertambah besar ukurannya sehingga anak bisa lebih lama menahan kencingnya. Selain ukuran, anak juga semakin mahir mengendalikan kandung kemihnya dan pada usia 4 tahun mereka bisa menahan kencing sehingga tidak mengompol di kasur.
5)      Anak memiliki kendala penuh terhadap kandung kemih dan defekasi, enurisis Nokturnal (mengompol) terjadi pada 15% anak berusia 6 tahun.

 

2.      Perkembangan Kognitif


a.       Perkembangan Motorik
Masa kanak–kanak awal usia 2 sampai 6 tahun, masa ini merupakan masa prasekolah, dimana anak umumnya masuk kelompok bermain dan Taman kanak-kanak. Di dalam Islam masa ini disebut dengan fase al-thifl . [5]Anak usia Taman Kanak-kanak dalam rentangan usia 4-5 atau 6 tahun berada dalam masa usia emas (golden age) segala sesuatunya sangat berharga, baik fisik, emosi dan intelektualnya. Perkembangan fisik anak mengalami perubahan seperti, tinggi badan dan berat badan. Masa kanak-kanak rata-rata tinggi badannya bertambah 6.25 cm setiap tahun dan bertambah berat badan 2-5 kg. Pada usia 6 tahun berat badan anak normal harus kurang lebih mencapai 7 kali berat pada waktu lahir. Anak usia Taman Kanak-kanak ini sangat besar energinya sehingga diperlukan suatu pembelajaran yang sangat tepat sehingga berkembang kemampuan motorik kasar maupun halus.
 Prinsip-prinsip perkembangan fisiologis anak usia Taman Kanak-kanak adalah koordinasi gerakan motorik, baik motorik kasar maupun halus. Pada awal perkembangannya, gerakan motorik anak tidak terkoordinasi dengan baik.[6] Sehingga seiring dengan kematangan dan pengalaman anak kemampuan motorik tersebut berkembang dari tidak terkoordinasi dengan baik menjadi terkoordinasi secara baik. Prinsip utama perkembangan motorik adalah kematangan, urutan, motivasi, pengalaman dan latihan atau praktek.
Perkembangan Motorik Kasar merupakan tugas perkembangan jasmani berupa koordinasi gerakan tubuh, seperti: berlari, berjinjit, melompat, bergantung, melempar dan menangkap, serta menjaga keseimbangan. Kegiatan ini diperlukan dalam meningkatkan keterampilan koordinasi gerakan motorik kasar. Pada anak usia 4 tahun, anak sangat menyenangi kegiatan fisik yang mengandung bahaya, seperti melompat dari tempat tinggi atau bergantung dengan kepala menggelantung ke bawah. Pada usia 5 atau 6 tahun keinginan untuk melakukan kegiatan berbahaya bertambah. Anak pada masa ini menyenangi kegiatan lomba, seperti balapan sepeda, balapan lari atau kegiatan lainnya yang mengandung bahaya. Selain mengandalkan kekuatan otot, rupanya kesempurnaan otak juga turut menentukan keadaan. Anak yang pertumbuhan otaknya mengalami gangguan tampak kurang terampil menggerak-gerakkan tubuhnya.
 Perkembangan gerakan motorik halus anak TK ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan. Pada usia 4 tahun koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang bahkan hampir sempurna. Walaupun demikian anak usia ini masih mengalami kesulitan dalam menyusun balok-balok menjadi suatu bangunan. Hal ini disebabkan oleh keinginan anak untuk meletakkan balok secara sempurna sehingga kadang-kadang meruntuhkan bangunan itu sendiri. Pada usia 5 atau 6 tahun koordinasi gerakan motorik halus berkembang pesat.[7]jadi, pada masa ini anak telah mampu mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan, dan tubuh secara bersamaan,antara lain dapat dilihat pada waktu anak menulis atau menggambar.
Ketika anak mampu melakukan suatu gerakan motorik, maka akan termotivasi untuk bergerak kepada motorik yang lebih luas lagi. Aktivitas fisiologis meningkat dengan tajam. Anak seakan-akan tidak mau berhenti melakukan aktivitas fisik, baik yang melibatkan motorik kasar maupun motorik halus. Pada saat mencapai kematangan untuk terlibat secara aktif dalam aktivitas fisik yang ditandai dengan kesiapan dan motivasi yang tinggi dan seiring dengan hal tersebut, orang tua dan guru perlu memberikan berbagai kesempatan dan pengalaman yang dapat meningkatkan keterampilan motorik anak secara optimal. Peluang-peluang ini tidak saja berbentuk membiarkan anak melakukan kegiatan fisik akan tetapi perlu didukung dengan berbagai fasilitas yang berguna bagi pengembangan keterampilan motorik kasar dan motorik halus.
Perkembangan intelektual pada masa kanak-kanak awal, anak berpikir konvergen menuju ke suatu jawaban yang paling mungkin dan paling benar terhadap suatu persoalan. Menurut teori perkembangan kognitif Piaget, anak pada masa kanak-kanak awal berada pada tahap praoperasional (2-7 tahun), istilah praoperasional menunjukkan pada pengertian belum matangnya cara kerja pikiran. Pemikiran pada tahap praoperasional masih kacau dan belum terorganisasi dengan baik (Santrock,2002) yang sering dikatakan anak belum mampu menguasai operasi mental secara logis. [8] Jadi pada masa ini anak memiiki perkembangan  inteektual yang tinggi yang menyebabkan  mereka menanyakan apa-apa yang mereka lihat dan mereka dengar. 
b.      Perkembangan Bahasa
Bahasa merupakan suatu kelebihan untuk umat manusia. Dengan menggunakan bahasa orang mampu membedakan antara subjek dan objek. Anak mempunyai kesanggupan untuk menyatakan apa yang terkandung dalam pikirannya dengan suara. Potensi itu mempunyai kemungkinan besar untuk dikembangkan. Perkembangan bahasa anak usia prasekolah dapat diklasifikasikan ke dalam 2 tahap, yaitu: masa usia anak 2-2 tahun 6 bulan dan masa usia anak 2 tahun 6 bulan- 6 tahun.
Piaget disebut perkembangan kognitif yang terjadi antara usia 2 dan 7 sebagai tahap praoperasional. Dalam tahap ini, anak-anak meningkatkan penggunaan bahasa dan simbol-simbol lainnya, imitasi perilaku mereka dewasa, dan bermain mereka. Anak-anak muda mengembangkan daya tarik dengan bahasa kata-baik dan buruk. Anak-anak juga bermain game make-percaya: menggunakan kotak kosong sebagai mobil, bermain keluarga dengan saudara kandung, dan memelihara persahabatan imajiner.
Kemampuan bahasa juga terus meningkatkan pada anak usia dini. Bahasa adalah hasil dari kemampuan seorang anak untuk menggunakan simbol-simbol. Dengan demikian, sebagai otak mereka berkembang dan memperoleh kemampuan untuk berpikir representasional, anak-anak juga memperoleh dan memperbaiki kemampuan bahasa. [9] Hal ini  menjadikan anak lebih mudah menangkap dan meniru ucapan atau ungkapan dari orang-orang yang dekat dengan ia.
Beberapa peneliti, seperti Roger Brown, telah mengukur perkembangan bahasa dengan jumlah rata-rata kata dalam kalimat anak. Semakin banyak kata anak menggunakan kalimat-kalimat, perkembangan anak lebih canggih bahasa. Brown menyarankan bahwa bahasa berkembang secara bertahap berurutan: ucapan-ucapan, frasa dengan infleksi, kalimat sederhana, dan kalimat kompleks. Sintaks dasar, menurut Brown, tidak sepenuhnya menyadari sampai sekitar usia 10 tahun.
Anak-anak prasekolah belajar kata-kata baru. Orang tua, saudara, teman, guru, dan media memberikan kesempatan bagi anak prasekolah untuk meningkatkan kosa kata mereka. Akibatnya, akuisisi bahasa terjadi dalam konteks sosial dan budaya. Agen Sosialisasi menyediakan lebih dari sekedar kata-kata dan makna mereka, namun. Agen ini mengajarkan anak bagaimana berpikir dan bertindak dengan cara yang diterima secara sosial. Anak-anak belajar tentang masyarakat ketika mereka belajar tentang bahasa. Nilai-nilai masyarakat, norma-norma, folkways (aturan informal perilaku yang dapat diterima), dan adat istiadat (aturan formal perilaku yang dapat diterima) yang ditularkan oleh bagaimana orang tua dan lain-lain menunjukkan penggunaan kata-kata.
Disini harus dibedakan adanya dua macam peniruan yaitu:
1)      Peniruan sepontan bahasa orang lain, biasanya bahasa orang tua.
2)      Peniruan yang dialakukan anak sesudah anak menerima tugas untuk melakukan itu. [10] Jadi iasanya bila anak menirukan secara sepontan maka kalimat yang ditirukan itu diulang kembali dengan tata bahasa anak sendiri dan tentunya yang lebih mudah baginya.


c.       Perkembangan  Ingatan
Memori adalah kemampuan untuk mengkodekan, mempertahankan, dan mengingat informasi dari waktu ke waktu. Anak-anak harus belajar untuk mengkodekan benda, orang, dan tempat-tempat dan kemudian dapat mengingat mereka dari memori jangka panjang.
Anak-anak kecil tidak ingat serta anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa. Selain itu, anak-anak ini lebih baik dari pada pengakuan tugas ingat memori. Peneliti menduga beberapa kemungkinan penyebab untuk pengembangan ini. Salah satu penjelasan adalah bahwa anak-anak prasekolah mungkin kurang dalam aspek-aspek tertentu dari perkembangan otak yang diperlukan untuk kemampuan memori matang. Penjelasan lain adalah bahwa anak-anak prasekolah tidak memiliki nomor yang sama dan jenis pengalaman untuk memanfaatkan sebagai orang dewasa saat memproses informasi. Alasan lain adalah bahwa anak-anak kurang perhatian selektif, yang berarti mereka lebih mudah terganggu. Masih penjelasan lain adalah bahwa anak-anak tidak memiliki kualitas yang sama dan kuantitas strategi mnemonic efektif sebagai orang dewasa.
Anak-anak prasekolah, namun, menunjukkan minat yang kuat dalam belajar. Apa seorang anak mungkin kurang dalam keterampilan terdiri dalam inisiatif.[11] Jad anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang melekat tentang dunia, yang mendorong kebutuhan untuk belajar sebanyak mungkin, secepat mungkin. Beberapa anak muda mungkin menjadi frustrasi ketika belajar tidak terjadi secepat atau mengingat seefisien anak yang lebih tua. Ketika situasi belajar yang terstruktur sehingga anak-anak dapat berhasil menetapkan tujuan-cukup dicapai dan memberikan bimbingan dan dukungan-anak bisa menjadi sangat matang dalam kemampuan mereka untuk memproses informasi.


d.      Perkembangan permainan
Sejak masih dalam buaian anak telah mulai bermain-main dengan tangannya, kakinya, dan lain-lainnya. Kemudian ia bermain dengan benda-benda yag didipatinya disekitarnya, akhirnya ia membutuhkan alat untuk bermain.
Dibawah ini adalah teori-teori tentang permain anak:
1)      Teori Herbert Spencer
Teorinya bernama teori kelebihan tenaga. Ia berpendapat bahwa anak itu bermain, karena didalam diri anak tersimpan tenaga lebih, sehingga harus disalurkan. Sehingga sangat wajar bila anak usia dini sangat aktif dalam bergerak atau bermain, kaena itu merupakan salah satu cara merekan mengapresiasikan tenaga yang ia miliki.
2)      Teori Karl Groos
Teorinya bernama teori biologis. Anak-anak bermain karena mereka harus mempersiapkan diri dengan tenaga dan fisiknya untuk masa depannya. Tentang lebih banyaknya permainan anak yang stu dengan yang lain, oleh Groos dikatakan bahwa makin tinggi tingkat hidup seseorang, maka makin banyaklah yang harus dipersiapkannya. Jadi anak lebih mementingkan bermain dari pada yang lainnya.
3)      Teori Kohnstamm
Teorinya dinamakan teori kepribadian. Anak bermain karena dalam permainan itu mereka barada dalam suasana yan g bebas, sehingga ada kesempatan untuk menunjukkan kepribadiannya, yang sesungguhnya. Baik kepribadian sebagai individu maupun kepribadiannya sebagai anggota masyarakat.
Permainan mempunyai arti dan nilai bagi anak sebagai berikut:
1)      Permainan merupakan sarana penting untuk mensosialisasikan anak. Yaitu sarana untuk mengintrodusir anak menjadi anggota masyarakat, agar anak bisa mengenal dan menghargai masyarakat. Dalam suasana permainan itu tumbuhlah rasa kerukunan yang sangat besar bagi pembentukan sosial sebagai manusia budaya.
2)      Dengan permainan dan situasi bermain anak bisa mengukur kemampuan serta potensi sendiri. Ia belajar menguasai macam-macam benda, juga belajar memahami sifat-sifat benda dan peristiwa yang berlangsung dalam lingkungannya.
3)      Dalam situasi bermain anak bisa menampilkan fantasi, bakat-bakat, dan kecenderungannya. Anak laki-laki bermain dengan mobil-mobilan, anak perempuan dengan  boneka-bonekanya. Jika kita memberikan kertas dan gunting pada sekelomok anak-anak kecil, masing-masing akan menghasilkan “karya” yang berbeda, sesuai dengan bakat dan kemampuan.
4)       Di tengah permainan itu setiap anak menghayati macam-macam emosi. Dia merasakan kegairahan dan kegembiraan, dan tidak secara khusus mengharapkan prestasi-prestasi. Dengan demikian, permainan mempunyai nilai yang sama besarnya dengan nilai seni bagi orang dewasa.
5)      Permainan itu menjadi alat pendidikan, karena permainan bisa memberikan rasa kepuasaan, kegembiraan dan kebahagian kepada diri anak.
6)      Permainan memberikan kesempatan pralatihan untuk mengenal aturan-aturan permainan, mematuhi norma-norma dan larangan, dan bertindak secara jujur serta loyal. Semua ini untuk persiapan bagi penghayatan “fair play” dalam pertarungan hidup di kemudian harinya.
Dalam bermain anak belajar menggunakan semua fungsi kejiwaan dan fungsi jasmaniah dengan suasana hati kesungguhan. Hal ini penting guna memupuk sikap serius dan bersunguh-sungguh pada usia dewasa untuk mengatasi setiap kesulitan hidup yang dihadapi sehari-harinya.[12] Jadi permainan  sangatlah  penting dalam  membetuk karakteristik dn sebagai alat untuk  menuangkan  kreatifitas anak.
e.       Perkembangan Psikososial
Masa ini adalah masa dimana anak-anak berumur 2-6 tahun. Masa ini dimulai dengan waktu anak-anak belajar berdiri sendiri, yang artinya tidak membutuhkan bantuan dalam hal apapun, dan masa ini diakhiri dengan waktu dimana anak sudah harus bersekolah dengan sungguh-sungguh[13]. Jadi dalam taraf ini, anak akan belajar hal-hal dasar dengan usahanya sendiri, seperti jalan, memegang dan mengambil benda, serta masih banyak hal yang lain. Aspek penting dalam perkembangan psikososial yang terjadi pada masa ini, diantaranya, permaianan, hubungan dengan orang tua, teman sebaya, perkembangan gender, dan moral.[14] Kesimpulannya bahwa dalam usia 2-6 tahun ini ada beberapa aspek yang menunjang perkembangan psikososial si anak, diantaranya permainan yang mana pada umur 2-6 tahun ini permainan berfungsi untuk melatih ketangkasan, emosi anak, dan cara berfikirnya. Kemudian dari aspek hubungan dengan orang tua, dan teman sebaya, dimana pada usia ini anak akan belajar bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan orang tua, atau temannya. Selain itu, jika hubungan antara anak dan temannya kurang baik, hal itu akan mempengaruhi perkembangannya. Sesuai dengan tugas pada masa kanak-kanak awal yaitu membedakan gender, yang mana saat usia seperti ini anak akan belajar membedakan gender, bagaimana cara anak bisa mengembangkan kepercayaan identitas gender, dan lain sebagainya.
f.       Perkembangan Permainan.
Permainan bagi anak-anak adalah suatu bentuk aktivitas sendiri, bukan karena memperoleh sesuatu yang dihasilkan dari aktivitas itu sendiri. Permainan mempunyai dua fungsi, yaitu :
1)      Fungsi Permainan.
(a)    Fungsi kognitif.
(b)   Fungsi emosi.
2)      Jenis Permainan.
Berdasarkan observasi terhadap anak-anak usia satu hingga lima tahun, Parten menemukan enam kategori permainan anak-anak :
(a)    Permainan rekapitulasi.
Anak memperhatikan, dan melihat, kemudian melakukan dengan tingkah laku yang tidak terkontrol.
(b)   Permainan Solitary.
Anak asyik bermain sendiri dengan berbagai macam alat mainan dan tidak peduli terhadap apapun yang terjadi, serta tidak terjadi kontak antara satu dengan yang lain.
(c)    Permainan Onlooker.
Anak melihat, memperhatikan, ikut berbicara, dan mengajukan pertanyaan, tapi tidak ikut terlibat dalam aktivitas permainan
(d). Permainan Paralllel.
Anak bermain dengan satu alat main yang sama dengan temannya, tapi tidak terjadi kontak, dan tidak saling tukar-menukar alat permainan
(e). Permainan Assosiative.
Anak bermain bersama dan saling pinjam alat permainan.
(f). Permainan Cooperative.Anak bermain dalam kelompok yang dipimpin satu atau dua orang, dan setiap anak mempunyai tugas masing-masing.

g.      Perkembangan Hubungan dengan Orang Tua
Hubungan dengan orang tua merupakan dasar bagi terbentuknya perkembangan emosional dan sosial anak. Salah satu hal yang penting dalam hubungan antara orang tua dan anak adalah gaya pengasuhan yang diterapkan orang tua. Menurut Diana Baumrind (1972) dalam Lerner, dan Hultsch (1983) dalam Psikologi Perkembangan merekomendasikan tiga tipe pengasuhan yang dikaitkan dengan aspek-aspek yang berbeda dalam tingkah laku sosial anak, yaitu otoritatif, otoriter, dan permisif :
1)      Pengasuhan Otoritatif ; gaya pengasuhan yang ketat, tapi juga bersikap responsif, menghargai perasaan dan pemikiran anak, serta mengikut sertakan anak dalam mengambil keputusan. Disamping itu pengasuhan model ini membuat anak lebih percaya diri, pengawasan sendiri, dan mampu bergaul dengan baik.
2)      Pengasuhan Otoriter ; Pengasuhan yang membatasi dan menuntut anak untuk mengikuti perintah orang tua.
3)      Pengasuhan Permisif ; dibedakan dalam dua bentuk, yaitu :
(a). Permisif-Indulgent ; orang tua ikut terlibat dalam kehidupan anak, tapi menetapkan sedikit batas pada anak. Pada model ini orang tua cenderung membiarkan anak melakukan apapun yang diinginkan, dan pada model ini, anak akan mengalami kurangnya pengendalian diri.
(b). Permisif-Indifferent ; orang tua tidak terlibat dalam kehidupan anak, dan efek nya pada anak adalah membuat kurang percaya diri, pengendalian diri yang buruk, dan rasa harga diri yang rendah.

h.      Perkembangan Hubungan dengan Teman Sebaya
Istilah teman sebaya leibh ditekankan pada kesamaan tingkah laku atau psikologis menurut Lewis & Rosenblum, 1975 (dalam Psikologi Perkembangan, Desmita, 2005 ; 145). Salah satu fungsi teman sebaya adalah menyediakan suatu sumber dan perbandingan temtang dunia luar keluarga. Dalam proses ini anak menjadiak orang lain sebagai tolok ukur.

i.        Perkembangan Gender
Kebanyakan anak mengalami sekurang-kurangnya tiga tahap dalam perkembangan gender (Shepherd-Look, 1982). Pertama, anak mengembangkan kepercayaan tentang identitas gender, yaitu rasa laki-laki atau perempuan. Kedua, anak mengembangkan keistimewaan gender, sikap tentang jenis kelamin mana yang mereka kehendaki. Ketiga, mereka memperoleh ketetapan gender, suatu kepercayaan bahwa jenis kelamin seseorang ditentukan secara biologis, permanen, dan tak berubah-ubah. Pengetahuan tentang ketiga aspek gender tersebut dinamakan sebagai peran jenis kelamin, atau stereotip gender. Pada umumnya, anak mencapai ketetapan gender pada usia 7-9 tahun.[15] Jadi, dalam perkembangan psikososial ini anak akan belajar untuk mengembangkan kepercayaan identitas gender, dan sesuai dengan tugas dari perkembangan itu sendiri, yakni menbedakan jenis kelamin. Dalam tahap ini juga, anak akan bisa mengarahkan dirinya pada sikap jenis kelamin mana yang mereka kehendaki, yang pada akhirnya mereka akan memperoleh ketetapan gender.

j.        Perkembangan Sosial
Berhasil atau tidaknya seorang anak menjalin hubungan dengan orang lain tergantung pada pengalaman-pengalaman pergaulan yang didapatnya di rumah. Pada kenyataannya, anak yang mendapat aturan-aturan yang demokratis dirumahnya, bisa mengadakan penyesuaian yang lebih baik, dari pada anak yang di didik secara otoriter oleh orang tuanya. Serta tempat anak dalam keluarga juga mempengaruhi penyesuaian-penyesuaian sosialnya.[16] Jadi, hubungan anak dengan orang tua juga mempengaruhi perkembangan psikologi anak, termasuk juga didalamnya metode pendidikan yang diterapkan orang tua pada anak nya, serta tempat anak dalam keluarga juga mempengaruhi perkembangannya. Melalui interaksi dengan orang lain, ia segera menangkap apa yang diharapkan dalam situasi sosial, dan anak akan sampai pada perkembangan sejumlah pemahaman sosial.[17] Jadi, melalui interaksi anak akan belajar memahami apa yang diinginkan orang lain, dan hal seperti ini juga membantu anak untuk mencapai puncak dari perkembangan sosial itu sendiri. Beberapa macam bentuk-bentuk tingkah laku sosial yang nampak pada anak :
1)      Negativisme, artinya penolakan terhadap kekuasaan orang dewasa. Hal ini terdapat pada anak antara usia 3 dan 4 tahun. Setelah umur itu, hal ini akan berkurang cepat, walaupun tudak seluruhnya. Hal ini disebabkan timbulnya rasa “aku” dalam diri anak, sehingga dia menyadari, bahwa dia berhak mempunyai kemauan sendiri.
Pada umumnya, negativisme dinyatakan dengan :
a)      Memberikan jawaban secara verbal, misalnya : tidak, tidak mau, dan sebagainya.
b)      Dengan gerak-gerik, misalnya membanting, atau membuang benda.
c)      Berdiam diri.
d)     Anak-anak yang lebih besar sering kali tidak mendengar atau tidak mengerti suatu oermintaan yang diajukan oleh orang dewasa.
(1)   Menirukan, orang tua merupakan model bagi anak untuk ditirukan. Kemudian dengan adanya perhatian pada anak-anak lain, anak menirukan gerak-gerik, bahasa, dan emosi-emosi mereka. Anak hanya menirukan orang yang dia senangi.
(2)   Persaingan, Pada umur kurang lebih 4 tahun, anak mulai mempunyai keinginan untuk melebihi anak lain. Maka dari itu anak pad usia ini sering menyombongkan apa yang dimilikinya.
(3)   Sikap Agresif, sikap ini sering ditunjukkan oleh anak yang ingin mempunyai kekuasaan. Anak lebih bersikap agresif apabila ada seorang dewasa yang ingin ditarik perhatiannya berada dekatnya. Anak-anak mulai menunjukkan sikap agresifnya mulai umur 2-4 tahun. Pada umur 4-5 tahun anak akan lebih menunjukkan sikap agresif dengan cara verbal, dari pada menyerang secara langsung dengan memukul ataupun yang lainnya.
(a)    Bertengkar, sebab-sebabnya adalah :
(b)   Merampas permainan anak lain.
(c)    Merusak segala sesuatu yang telah dikerjakan oleh anak lain.
(d)   Beteriak-teriak, menangis, menyepak-nyepak, dan menggigit.
(e)    Mengolok-olok, dan sebagainya.
(f)    Pertengkaran akan banyak terjadi ketika anak berusia 3 tahun. Setelah itu dengan adanya penyesuaian sosial, jumlah pertengkaran dan intensitasnya akan berkurang.
(4)   Kerjasama, pada dasarnya anak kecil adalah “Self Centered”, dan senang bertengkar, maka dalam permainannya dapat dikatakan tidak ada kerjasama. Pada umur 3 tahun, anak telah bisa bermain dengan teman sebayanya dalam waktu yang agak lama, dan telah nampak adanya keaktifan dalam kelompok (group activities), dan semakin lama semakin banyak pula pengalamannya, sehingga anak akan belajar bekerjasama dengan anak lain dan bermain secara harmonis.
(5)   Sikap Egoistis, hal ini terjadi pada usia 3 tahun, atau mungkin pada usia 4 tahun. Setelah anak menjadi pusat perhatian, dia akan merasa bahwa segala sesuatunya harus seperti kehendaknya. Dan setelah dari pengalamannya, dia akan sadar bahwa egoisme akan menjadi penghalang baginya untuk mencapai hubungan dengan teman-temannya, maka dia akan mengganti perhatian kepada dirinya dengan perhatian kepada temannya. Maka dia akan mau mengizinkan teman-temannya untuk mempergunakan miliknya.
(6)   Ikut  Merasakan Perasaan Orang Lain, haal ini dinyatakan dengan :
(a)    Mencoba membentu orang lain.
(b)   Mencoba menghilangkan hal yang membuat orang lain sakit.
(c)    Melindungi mereka yang dalam ketakutan.
(d)   Memberitahukan pada orang lain, bahwa seseorang atau seekor binatang sedang sakit.
(e)    Menyarankan jalan-jalan keluar dari kesukaran kepada anak, atau orang lain.
(f)    Menghargai Persetujuan, dan Pembenaran Tingkah lakunya oleh Masyarakat.
Mula-mula anak akan lebih mementingkan rasa dibenarkan tingkah lakunya oleh orang tuanya. Kemudian jikalau dia telah lebih banyak menarh perhatian terhadap teman-temannya sebayanya, dia lebih mementingkan persetujuan dari teman-teman sebayanya. Beberapa Ciri Masa Kanak-kanak Awal:
(1)   Masa kanak-kanak awal adalah masa yang dinamakan “Presschool Age”.
Di sebut begitu karena masa ini adalah masa sebelum masa anak masuk sekolah benar-benar.

(2)   Masa Kanak-kanak awal adalah “Pregang age”.
Masa ini adalah masa dimana anak-anak belajar dasar-dasar dari tingkah laku yang mempersiapkan diri nya bagi kehidupan bersama terhadap mana dia harus menyesuaikan diri bila masuk sekolah.

(3)   Masa Kanak-kanak Awal adalah masa penyelidikan dan peninjauan.
(4)   Masa Kanak-kanak Awal adalah “Problem Age”.
Dengan dimulainya masa kanak-kanak awal, anak nulai menunjukkan banyak problem tingkah laku yang harus dihadapi orang tua. Dalam periode ini anak memperkembangkan kepribadian khusus, yang sering kali menyebabkan dia tidak bisa menguasai dirinya. Dalam periode ini juga anak juga sering keras kepala, menentang orang tua, dan juga sering kali mengalami “Temper Tantrums”, diganggu oleh impian yang menakutkan, rasa takut yang tidak rasional di waktu siang hari, dan menderita rasa iri hati yang besar. Selain itu, anak juga tidak senang bila di timang-timang oleh orang tua, atau saudara-saudaranya.
Tugas-tugas Perkembangan Masa Kanak-kanak Awal.
(1)   Belajar membedakan jenis kelamin.
(2)   Membentuk konsep-konsep dari kenyataan sosial dan physic yang sederhana.
(3)   Belajar menghubungkan dirinya secara emosional.
(4)   Belajar membedakan yang benar dan yang salah, dan memperkembangkan kata hati.
(5)   Belajar ketrampilan-ketrampilan physic yang diperli=ukan untuk permainan-permainan yang sederhana.
(6)   Belajar bergaul dengan teman yang sebaya.
(7)   Memperkembangkan konsep-konsep yang perlu bagi kehidupan sehari-hari.

k.      Perkembangan Emosi
Anak pada masa ini lebih emosional dari pada masa-masa perkembangan lainnya. Hal ini nampak pada anak yang berumur 21/2 tahun sampai 31/2 tahun, dan umur 51/2 tahun sampai 61/2 tahun.[18] Penyebab emosional anak pada masa ini adalah :
1)      Pada umumnya permainan anak pada masa ini lebih ribut atau kasar, sehingga akhirnya mereka menjadi amat capai.
2)      Menentang untuk tidur siang.
3)      Menentang untuk banyak makan.
Namun Pada dasarnya, emosionalitas yang muncul disebabkan oleh hal-hal yang bersifat psikologik. Kabanyakan anak merasa bahwa mereka dapat melakukan banyak hal, maka mereka menentang larangan terhadap dirinya. Dan anak-anak pada umur ini seringkali marah ketika mereka tidak dapat mengerjakan suatu hal yang mereka anggap mudah.
Hal-hal yang Menyebabkan Perbedaan-perbedaan dalam emosionalitas
1)      Perbedaan dalam keadaan sekitar.
2)      Perbedaan dalam hal kesehatan.
3)      Pola tingkah laku yang berhubungan dengan emosi-emosi yang dikembangkan selama masa bayi.
4)      Perasaan tentang diri (Self).
5)      Otonomi dan Inisiatif yang berkembang.[19]
Bentuk-bentuk Emosi dalam Masa Kanak-kanak Awal
Marah, disebabkan 2 hal, yaitu :
(1)   Dalam hidup anak pada masa ini memang trerdapat banyak sebab yang mungkin menimbulkan marahnya.
(2)   Oleh karena anak pada umur ini segera melihat, bahwa dengan kemarahan dia dengan cepat akan mendapatkan apa yang diinginkannya.
Sebab-sebab kemarahan anak adalah :
a)      Perebutan mainan.
b)      Disuruh berhenti mengerjakan sesuatu yang disenanginya.
c)      Tidak dituruti kehendaknya.
d)     Diserang oleh anak-anak lain.
e)      Anak lain mengambil sesuatu yang disenanginya.
f)       Di olok-olok anak lain.
Frekwensi kemarahan anak tergantung pada beberapa sebab :
a)      Tempat tinggal anak.
b)      Jumlah saudara.
c)      Cara orang tua menghadapi anak.
d)     Takut, dengan bertambahnya intelligensi anak, maka anak menjadi semakin tahu dan bisa membedakan hal-hal yang dapat membahayakannya.
Respon-respon terhadap rasa takut :
a)      Berlari menjauhkan diri.
b)      Menyembunyikan diri.
c)      Menghindari hal-hal yang menimbulkan rasa takutnya.
d)     Berkata : “ambillah itu”, “aku tak mau pergi”, dan sebagainya, dan biasanya disertai tangisan.

Iri Hati, disebabkan beberapa hal, yaitu :
a)      Perhatian orang tua beralih pada adik, dan kakaknya, serta memberikan apa yang diinginkan.
b)      Saudaranya sering sakit, lebih diperhatikan orang tua.
Respon terhadap iri hati biasanya sama dengan respon ketika marah, yakni dengan menunjukkan “Temper Tantrums” atau Letupan rasa marah. Kadang-kadang respon nya adalah sebagai berikut :
a)      Mengisap Jempol, mengompol, melakukan kenakalan-kenakalan, dan tidak mau makan.
b)      Pura-pura sakit, atau pura-pura takut agar diperhatikan.
Rasa Ingin Tahu, anak merasa ingin tahu akan hal-hal yang dilihatnya. Masa “Questioning Age” adalah masa dimana anak mulai bertanya, yakni pada umur 2 atau 3 tahun, dan mencapai puncaknya pada umur 6 tahun.
Kegembiraan, sebab-sebabnya adalah :
a)      Anak merasa sehat badannya.
b)      Keadaan-keadaan yang tidak biasa terjadi.
c)      Suara-suara yang terdengan tiba-tiba dan tidak diperkirakan adanya.
d)     Kecelakaan-kecelakaan yang ringan dan lucu.
e)      Bersenda gurau dengan kata-kata.
f)       Mengganggu anak atau orang lain.
g)      Berhasil mengerjakan suatu pekerjaan.
Respon yang dihasilkan adalah :
a)      Tersenyum, tertawa, dan bertepuk tangan.
b)      Melonjak-lonjak atau memeluk orang yang mendatangkan kegembiraan.
c)      Satu hal yang perlu diperhatikan adalah cara anak menunjukkan rasa gembirannya tergantung pada derajat kegembiraaannya.

Kasih Sayang, dibrerikan pada siapa saja yang memberikan kegembiraan, atau kepuasan padanya. Tidak hanya orang, tapi hewan dan benda pun bisa mendapatkan kasih sayang anak. Anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua pada masa ini, maka tidak akan memberikan kasih sayang kelak ketika besar. Begitu juga dangan anak yang terlalu banyak mendapatkan kasih sayang juga tidak baik untuk perkembangannya, dan kelak akan sukar untuk berteman dengan orang lain. Cara anak untuk menunjukkan rasa kasih sayang nya bermacam-macam, diantaranya :
a)      Memeluk, dan mencium.
b)      Selalu ingin berada dekat dengan orang atau benda yang disayanginya.
c)      Menangis kalau ditinggalkan.
d)     Ingin mengerjakan apa yang dikerjakan orang yang disayanginya.





C.   KESIMPULAN


1.      Perkembangan Fisik Masa kanak-kanak awal terjadi pada rentang usia 2 – 6 tahun, masa ini sekaligus merupakan masa prasekolah, dimana anak umumnya masuk Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak. Perubahan yang terjadi meliputi :
a.       Perubahan-perubahan dalam tubuh, seperti pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon dll.
b.      Perubahan-perubahan dalam cara-cara individu dalam menggunakan tubuhnya, seperti perkembangan keterampilan motorik dan perkembangan seksual).
c.       Perubahan dalam kemampuan fisik, seperti penurunan fungsi jantung, penglihatan dan sebagainya.

2.      Perkembangan Kognitif meliputi perkembangan :
a.       Perkembangan Motorik
b.      Perkembangan Bahasa
c.       Perkembangan ingatan
d.      Perkembangan permainan

3.      Perkembangan Psikososial masa ini dimulai dengan waktu anak-anak belajar berdiri sendiri, yang artinya tidak membutuhkan bantuan dalam hal apapun, dan masa ini diakhiri dengan waktu dimana anak sudah harus bersekolah dengan sungguh-sungguh. meliputi perkembangan.
a.       Perkembangan Permainan.
b.      Perkembangan Hubungan dengan Orang Tua
c.       Perkembangan Hubungan dengan Teman Sebaya
d.      Perkembangan Gender
e.       Perkembangan Sosial
f.       Perkembangan Emosi

DAFTAR PUSTAKA


Dariyo, Agus. 2007 .Psikologi Perkembangan anak tiga tahun pertama. Bandung: Refika Aditama.
Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Hidayati, Wiji dan Purnami Sri. 2008. Psikologi Perkembangan,  Yogya: Teras.
http://jadibrilian.blogspot.com/2011/11/perkembangan-masa-kanak-kanak-awal-2-6.html
Jahja, Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana.
Kartono,Kartini. 1999. Psikologi Anak. Bandung: Bandar Maju.
Moks,J.L. Prof. Dr. A.M.P knors, Prof. Dr. Siti Rahayu Haditono. 1992.  Psikologi perkembangan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Soesilowindradini. Psikologi Perkembangan (Masa Remaja), Surabaya: Usaha Nasional.
Sujanto,Agus. 1977. Psikologi Perkembangan. Surabaya: Aksara Baru.
W. Santrock, Jhon. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
Wiji,Hidayati. Purnami, Sri. 2008. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Teras.
Zulkifli,L. 1986. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.








[1] Jhon w. santrock, Perkembangan Anak, (Jakarta : Erlangga, 2007), hlm. 160.
[2] http://devhii04.blogspot.com/2011/04/perkembangan-anak-usia-2-6-tahun.html
[3] Agus Dariyo, Psikologi Perkembangan anak tiga tahun pertama,(Bandung: Refika Aditama, 2007), hlm. 38.
[4] http://jadibrilian.blogspot.com/2011/11/perkembangan-masa-kanak-kanak-awal-2-6.html
[5]  L. Zulkifli, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1986), hal: 31


[6] Ibid. 31
[7] Ibid 32
[8] Wiji Hidayati dan Sri Purnami,  Psikologi Perkembangan, (Yogyakarta: Teras, 2008), hlm. 118-120.
[9] Agus Sujanto, Psikologi perkembangan, (Surabaya: Aksara Baru, 1977), hlm. 27.
[10] F.J. Moks, A.M.P knors dan Siti Rahayu Haditono, Psikologi perkembangan, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1992, Cetakan VIII), hlm. 162.
[12] Kartini Kartono, Psikologi Anak 199, (Bandung: Bandar Maju), hlm. 122.
[13] Seosilowindradini, Psikologi Perkembangan (Masa Remaja), hlm. 89.
[14] Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan, hlm. 191
[15] Desmita, Psikologi Perkembangan, hlm. 146-147.
[16] Ibid, Seosilowindradini, hlm. 97-98.
[17] Wiji Hidayati dan Sri Purnami, Psikologi Perkembangan, hlm. 124.
[18] Ibid, Seosilowindradini, hlm. 92
[19]Ibid, Wiji Hidayati dan Sri Purnami, hlm. 122.

Entri Populer