PERIODE BAYI (1-2 TAHUN)



PERIODE BAYI (1-2 TAHUN)
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
            Sangatlah tidak bisa dipisahkan mengenai perkembangan dan pertumbuhan anak saat lahir. Perkembangan motorik dan fisik anak sangatlah berhubungan dengan pertumbuhan psikis anak. Oleh karena itu psikologli perkembangan anak usia dini berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh.
Anak akan mengalami suatu periode yang dinamakan sebagai masa keemasan anak saat usia dini dimana saat itu anak akan sangat peka dan sensitif terhadap berbagai rangsangan dan pengaruh dari luar. Laju perkembangan dan pertumbuhan anak mempengaruhi masa keemasan dari masing-masing anak itu sendiri. Saat masa keemasan, anak akan mengalami tingkat perkembangan yang sangat drastis di mulai dari pekembangan berpikiri, perkembangan emosi, perkembangan motorik, perkembangan fisik dan perkembangan sosial. Lonjakan perkembangan ini terjadi saat anak berusia 0-8 tahun, dan lonjakan perkembangan ini tidak akan terjadi lagi di periode selanjutnya. Saat perkembangan anak khususnya saat perkembangan dini, orang tua harus betul menjadikannya sebagai perhatian khusus, karena hal ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak di masa yang akan datang. Guna mendukung hal tersebut berikut adalah beberapa hal yang harus di perhatikan mengenai perkembangan.
Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai periode bayi, yang merupakan awal kehidupan manusia dan segala macam perkembangannya.
2. Rumusan Masalah
a.       Bagaimana proses kelahiran terjadi?
b.      Bagaimana perkembangan fisik anak usia 0-2 tahun?
c.       Bagaimana perkembangan motorik anak usia 0-2 tahun?
d.      Bagaimana perkembangan kognitif anak usia 0-2 tahun?
e.       Bagaimana perkembangan psikososial anak usia 0-2 tahun?
3. Tujuan
a.       Mengetahui proses kelahiran terjadi.
b.      Mengetahui perkembangan fisik anak usia 0-2 tahun
c.       Mengetahui perkembangan motorik anak usia 0-2 tahun
d.      Mengetahui perkembangan kognitif anak usia 0-2 tahun
e.       Mengetahui perkembangan psikososial anak usia 0-2 tahun




B. PEMBAHASAN
1. Proses Persalinan
Persalinan adalah awal dan akhir : puncak dari semua yang terjadi dari mulai masa pembuahan. Kerja keras adalah hal yang tepat. Sebab persalinan adalah kerja keras baik bagi ibu maupun bagi bayinya.
Vaginal childbirth terjadi dalam empat tahap yang saling berkaitan. Bagi wanita yang baru pertama kali melahirkan, tahap pertama yang terpanjang, biasanya kurang lebih sekitar 12 jam. Pada kelahiran berikutnya tahap ini cenderung lebih pendek. Sepanjang tahap ini, kontraksi uterine yang terus meningkat menyebabkan cervix semakin terbuka.
Tahap kedua, biasanya berlangsung sekitar 1 ½ jam atau lebih. Pada tahap ini dimulai ketika kepala bayi mulai bergerak melalui cervix ke lubang vagina. Dan berkhir ketika si bayi keluar dari tubuh ibunya secara utuh. Apabila proses ini terjadi selama lebih dari 2 jam, maka si bayi membutuhkan lebih banyak bantuan. Dokter mungkin akan memegang kepala bayi dengan forcep atau yang lebih sring dilakukan dengan menggunakan vakum dengan kepala penyedot untuk menariknya keluar dari tubuh ibu,. Pada tahap terakhir si bayi terlahir tapi masih terhubung dengan dengan plasenta dari tubuh ibu melalui tali pusar yang harus dipotong dan diikat.
Sepanjang tahap ketiga, yang berlangsung sekitar 5 sampai 30 menit, plasenta dan tali pusar yang masih tersisa dikeluarkan dari tubuh ibu. Beberapa jam setelah persalinan merupakan tahap keempat, pemulihan si ibu terus dipantau ketika ibu beristirahat.[1]
2. Perkembangan fisik
Rata-rata bayi yang baru lahir di amerika serikat adalah 20 inchi panjang dan 7,5 pon berat. Pada saat kelahiran, seorang bayi yang lahir normal dengan berat badan 5,5 sampai 10 pon memiliki panjang sekitar 18-22 inchi. Bayi laki-laki cenderung lebih berat daripada  anak perempuan dan anak pertama senderung lebih rinngan dibandingkan dengan anak yang lahir berikutnya.[2]
Kenaikan suatu berat badan, pada anak dimasa 3 bulan yang pertama, mengalami kenaikan pada berat badannya yang mencapai seberat 30 gram sehari, namun pada saat si anak mencapai umur kisaran 6 bulan pertama berat badan pada sianak akan kembali meningkat sehingga bertambah menjadi 0,5 kg per setiap bulannya. Pada saat usia si anak mencapai pada bulan yang ke 5 maka berat pada anak akan meningkat seberat 2 kali lipat dari berat anak pada saat lahir. Kemudian akan meningkat 0,35-0,5 kg per bulan sampai pada saat akhir tahun yang pertama. Pada saat menginjak tahun yang ke 2 pertumbuhan berat si anak akan bertambah menjadi 0,25 kg per bulannya.
Gigi, Pada pertumbuhan gigi ini umumnya diawali dengan pertumbuhan gigi seri tengah yang pertama tumbuh pada usia 16-18 bulan. Kemudian sampai dengan umur yang mencapai 2 tahun,usia bayi biasanya dapat diukur secara kasar.
 Tulang Belulang, Pada mula-mula keadaan tulang belulang bayi belum stabil atau sekuat seperti kita pada saat sekarang ini. Seperti yang kita lihat pada bagian ubun-ubun anak mula-mula memang terbuka atau belum terbentuknya tulang tempurung depan secara sempurna, namun pada saat usia anak sudah mencapai usia 18 bulan barulah keadaan tempurung depan anak akan tertutup dengan baik.
 Ukuran Kepala, Pada saat anak baru terlahir ukuran kepala si anak mencapai, 35 cm, kemudian bertambah menjadi 1-2 cm setiap bulannya lalusampai usia 4 bulan pertama, kemudian bertambah ukurannya menjadi 5 cm pada masa sisi tahun yang pertama.
 Pertumbuhan Otot, Pada anak-anak pertumbuhan otot sangatlah signifikan, oleh karena itu anak membutuhkan protein yang sangat banyak. Pada bayi lingkaran otot lengan atasnya sangatlah besar sekitar 10 cm ketika baru lahir, namun bertambah sehingga menjadi 16 cm pada saat berumur 12 bulan, tetapi hanya akan bertambah ukuran hanya sebesar 1 cm, pada saat 4 tahun yang berikutnya.
Namun, hal-hal diatas dapat dipengaruhi beberapa hal, antara lain:
Pengaruh keluarga.yang dimaksud di sini adalah baik faktor keturunan maupun faktor lingkungan. Karena faktor keturunan, seorang dapat menjdi lebih gemuk daripada anak-anak lain.
Gizi. anak-anak yang memperoleh gizi cukup biasanya akan lebih tinggi tubuhnya dan sedikit lebih cepat mencapai taraf remaja dibandingkan dengan mereka yang kurang memperoleh gizi.
Gangguan emosional. Anak yang terlalu sering mengalami gangguan emosional akan menyebabkan terbentuknya steroid ardenal yang berlebihan. Dan ini yang akan menyebabkan berkurangnya pembentukan hormon pertumbuhan di kelenjar pituitary.
Jenis kelamin. Anak laki-laki cenderung lebih tinggi daripada anak perempuan. Terjadinya perbedaan ini dikarenakan bangun tulang dan otot pada anak laki-laki memang berbeda dari anak perempuan.
Suku bangsa. Perbedaan berat dan tinggi tubuh mungkin saja berkaitan dengan latar belakang suku bangsanya. Biasanya anak kulit hitam sedikit lebih langsingdaripada anak kulit putih, walaupun tinggi tubuh mereka dapat sama bila mereka berasal dari latar belakang sosial ekonomi yang sama pula.[3]
a.      Sistem tubuh
Sebelum lahir sirkulasi darah, pernapasan, makanan, pembuangan kotoran, dan regulasi suhu dilaksanakan melalui tubuh ibu. Janin dan sang ibi memiliki sistem sirkulasi dan detak jantung yang berbeda. Darah janin akan dibersihkan melalui tali pusar yang akan membawa darah ‘bekas’ ke plasenta dan kembali dengan suplai yang segar. Setelah lahir, sistem sirkulasi bayi harus dilakukan seorang diri. Detak jantung si bayi sangat cepat an tidak teratur, darahnya juga tidak stabil sampai hari kesepuluh kelahiran.
Tiga atau empat hari setelah persalinan, sekitar setengah dari bayi (dan porsi yang lebih besar pada bayi yang lahir secara prematur) “menguning” (neonatal jaundice) : kulit dan mata mereka tampak menguning. Jenis kekuningan ini disebabkan belum sempurnanya liver. Biasanya hal ini tidak serius, tidak berlangsung lama, dan tidak memerlukan perawatan medis. Akan tetapi karena sebagian besar bayi yang baru lahir dengan sehat di Amerika Serikat meninggalkan rumah sakit sekitar 46 jam setelah melahirkan, penguningan ini bisa jadi tidak diperhatikan dan dapat menimbulkan komplikasi. Penguningan parah yang tak termonitor dan diperlakukan dengan benar dapat mengakibatkan kerusakan otak.[4]
b.      Kemampuan sensor awal
Mencium dan merasa. Indera pemciuman dan perasa ini juga mulai berkembang di rahim. Rasa dan bau makanan yang dikonsumsi calon ibu dapat ditransmisikan pada janin melelui cairan amniotik. Setelah melahirkan transmisi yang sama juga terjadi melalui ASI. Sebagaimana ASI sangat diperlukan bagi setiap bayi. Karena kandungna yang terdapat dalam ASI mampu memberikan nutrisi yang cukup bagi bayi.
Pendengaran. Pendengaran juga telah berfungsi sebelum kelahiran. Pengenalan dini terhadap suara dan bahasa yang didengar di dalam rahim merupakan pondasi hubungan orang tua dan anak.[5] Namun pendengaran merupakan slaha satu dari seluruh indera yang paling sedikit perkembangannya pada saat kelahiran. Ada dua alasan : pertama, karena di telinga bagian tengah terhambat oleh cairan amnion, gelombang suara tidak dapat menembus ke sel indera di telinga bagian dalam, dan bayi tidak dapat mendengar beberapa jam atau hari sedudah lahir. Kedua sel indera ke telinga bagian dalam baru sebagian berkembang. Suara berfrekuensi rendah lebih efektif untuk menghentikan tangisan dan hisapan tidak berguna daripada suara berfrekuensi tinggi.[6]
Penglihatan merupakan indera yang baru berkembang tepat ketika bayi dilahirkan, mata seorang bayi yang baru lahir lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang sudah dewasa, struktur retinanya belum komplit, dan saraf optiknya sedang berkembang. Bayi yang lahir buta di cahaya yang terang. Peralatan penglihatan mereka sangat sempit, dan akan menjadi dua kali lipat lebih luas pada usia 2 hingga 10 minggu. Kemampuan untuk mengikuti target bergerak, dan juga presepsi terhadap warna, berkembang dengan cepat pada bulan pertama, penglihatan akan semakin berkembang di tahun pertama, mencapai level 20/20 pada usia 6 bulan. Penglihatan jauh biasanya baru akan berkembang pada bulan ke 4 dan ke 5.[7] Maka dari itu, banyak hiburan yang untuk mengasah penglihatan bayi pada usia ini, yang akan membantunya untuk lebih memperkuat indera penglihatanya.
Sekalipun perkembangan-perkembangan anak masa awal anak-anak ini bisa diramalkan tetapi terdapat perbedaan individual dalam semua aspek perkembangan fisik. Misal anak dengan kecerdasan tinggi, maka tumbuh kembangnya akan cenderung lebih cepat dibandingkan dengan anak dengan kecerdasan sedang atau dibawah rata-rata, dan gigi sementaranya akan lebih cepat tanggal. Anak dari kelompok sosial ekonomi tinggi cenderung memperoleh gizi dan perawatan yang lebih baik sebelum dan sesudah kelahirannya. Oleh karena itu, perkembangan tinggi, berat, dan otot-otot badan cenderung lebih baik.
3. Perkembangan Motorik
Apabila anak dalam beberapa bagian menjelaskan orang dewasa, dapat pula dikatakan bahwa setiap periode perkembangannnya sebagian menjelaskan periode-periode berikutnnya.  Hal ini tampak jelas dalam periode ketika “bahasa” masih absen, kami menyebutnnya periode “sensorik motorik”. Karena bayi belum memiliki fungsi simbolik. Dengan kata lain, ia tidak memiliki representasi yang dapat ia gunakan untuk memunculkan orang atau objek dalam ketidak  hadiran mereka. Selain ketiadakan fungsi simbolik ini, perkembangan mental selama 18 bulan pertama sangat penting karena masa ini anak membentuk seluruh sub struktur kognitif yang akan bertugas sebagai titik tolak perkembangan prespektif dan intelektualnnya kelak, maupun reaksi-reaksi afektif elementer tertentu yang sebagian akan menentukan aktivitas selanjutnnya.[8] Oleh karena itu, perkembangan sensor motorik merupakan perkembangan yang perlu diperhatikan bagi orang tua dan bagi peserta didik karena perkembangan inilah yang terlihat paling menonjol
a.       Kecerdasan sensorik motor
Kriteria kecerdasan apapun yang dianut purposeful groping atau pemeriksaan yang bertujuan (E.Claparede), pemahaman atau pendalaman tiba-tiba(W.Kohler, atau K.Buhler), koordinasi antara cara dan lain-lain. Semua orang tadi sepakat dalam mengakui eksisnnya kecerdasan sebelum bahasa. Meskipun pada dasarnnya bersifat praktis (bertujuan memperoleh hasil-hasil dari pada menyatakan kebenaran) kecerdasan ini bagaimanapun berhasil memecahkan berbagai masalah tindakan(seperti meraih objek-objek yang jauh atau tersembunyi) dengan membangun system skema-tindakan yang kompleks dan mengorganisasi realitas dalam hal struktur spasio-temporal dan kausalnya. Dalam ketiadakan bahasa atau fungsi simbolik, konstruksi-konstruksi ini dibangun hanya melalui dukungan persepsi dan gerakan belaka, yang berarti memakai koordinasi tindakan yang bersifat sensorik motorik, tanpa intervensi representasi atau penalaran.
Perlu ditegaskan bahwa yang disebut  sebagai kecerdasan sensorik motorik itu ada, tetapi sangat sulit menetapkan waktu persis kemunculannya. Pada kenyataanya, pertanyaan tentang ada atau tidaknya sesuatu yang disebut sebagai kecerasan sensorik motorik itu tidak masuk akal,  karena jawabannya selalu bergantung pada pilihan criteria atau standart yang arbitrer. Hal yang sebenarnnya bisa ditemukan adalah rangkaian tahapan yang sangat halus, yang masing-masing menandai adannya suatu perkembangan baru, hingga sangat perilaku yang dipelajari mulai menampilkan karakteristik-karakteristik yang oleh para psikolog disebut sebagai”kecerdasan”.
Bagi banyak psikolog, mekanisme ini merupakan salah satu bentuk asosiasi, proses kumulatif yang dengannya ditambahkan pada refeks dan banyak akuisisi(hal yang telah diketahui sebelumnnya)lainnya ditambahkan pada pengondisian itu. Menurut pandangan ini, setiap akuisisi dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks dianggap sebagai respon atas stimuli, suatu respon yang karakter asosiatifnnya mengekspresikan kendali perkembangan yang seutuhnnya oleh koneksi-koneksi eksternal. [9] Dengan kata lain, setiap koneksi yang baru terbentuk diintegrasikan ke suatu skematisme yang ada.

b.      Kontruksi Realitas
Sistem skema-skema sensorik motorik dalam asimilasi berpuncak pada sejenis logika tindakan yang mnyertakan pembentukan hubungan dan korespondensi(fungsi) dan klasifikasi skema(bandingkan dengan logika kelas), singkatnnya struktur urutan dan pengumpulan yang merupakan sub struktur untuk operasi penalaran dimasa depan. Namun, kecerdasan sensorik motorik memiliki akibat yang  sama pentingnnya dalam hal membuat struktur  bagi dunia sisubjek, betapapun terbatasnnya. Betapapun terbatasnnya pada level praktis ini kecerdasan sensorik motorik mengatur realitas dengan membangun kategpori-kategori yang luas tentang tindakan yang meliputi skema objek, ruang, waktu, dan kausalitas yang permanen, substruktur dari konsep kecerdasan ini yang nantinnya akan sesuai dengan kategori-kategori tersebut. Tidak satupun dari kategori-kategori ini yang diberikan kepada permulaan, dan dunia awal seorang anak sepenuhnnya berpusat pada tubuhnnya dan tindakan dalam egosentrisme yang sepenuhnnha bersifat bawah sadar(karena belum tumbuhnnya kesadaran diri). Bagaimanapun, selama 18 bulan pertama akan terjadi semacam revolusi Copernican(revolusi pemikiran yang mengemukakan bahwa bumi dan seluruh planet berotasi mengelilingi matahari)atau secara lebih sederhana semacam proses peminggiran ketika anak pada akhirnnya menganggap dirinnya sebagai objek diantara objek lain di alam semesta yang disusun oleh objek-objek permanen dan dimana ada upaya Causalitas yang dilokalisasi dalam ruang dan di objektivikasi dalam kebendaan.
Karakteristik pertama dunia praktis ini, yang dibentuk anak selama tahun keduanya adalah bahwa dunia tersebut terdiri dari objek permanen. Dunia yang melingkupi bayi adalah dunia tanpa objek yang hanya terdiri dari”Tablo”(Pemandangan visual yang menarik dan beragam) yang terus berganti dan tidak penting maknannya yang muncul dan kemudian hilang kembali sepenuhnya. Pada usia sekitar 5-7 bulan ketika anak masih nyaris meraih sebuah objek dan anda menutupi dengan kaum atau memindahkannya ke belakang kain tersebut, anak akan menarik tangannya  yang sudah terulur atau dalam objek yang sangat menarik baginnya, mulai menangis atau menjerit karena kecewa. Dengan demikian, ia bereaksi seakan-akan objek tersebut telah disembunyikan lagi. Barangkali hal ini merupakan pernyataan keberatannya bahwa ia sangat tahu objek yang diinginkan masih ada di tempatnnya menghilang, tetapi dia sama sekali tidak berhasil memecahkan masalah dalam mencari benda itu.
Konserfasi objek merupakan hal-hal lain dari sebuah fungsi makalisasi objek, dengan ungkapan lain anak belajar bahwa objek tidak berhenti ada ketika menghilang dan pada saat yang sama ia juga belajar kemana perginya objek tersebut. Fakta ini menunjukkan bahwa sejak awal pembentukan skema objek permanen sangat terkait dengan seluruh pengorganisasian dunia praktis secara spasio-temporel dan kasual.

c.       Aspek Kognitif reaksi sensorik motorik
Apabila kami membandingkan fase-fase pengonstruksian realitas dan pengonstruksian skema sensorik motorik yang mengarakterisasi beroperasinya reflex, kebiasaan, atau kecerdasan itu sendiri kami mengobservasi eksistansi sebuah hokum perkembangan yang memiliki arti penting karena hal ini juga akan mengatur seluruh perkembangan anak kelak.
Skema sensorik motorik terungkap dalam tiga bentuk berturutan yang luas(bentuk sebelumnnya tidak hilang hingga yang berikutnya muncul):
1)      Bentuk-bentuk pertama terletak pada struktur ritme,seperti yang dapat diamati dalam gerakan spontan dan globa dalam organism yang tidak perlu diragukan bahwa refleksnnya hanyalah diferensiasi gradual dari gerakan-gerakan ini. Refleks para individu sehubungan dengan hal tersebut masih bergantung pada strutur ritmis,bukan hanya dalam pengaturan kompleks mereka, tetapi karena gerakan yang mereka libatkan dimulai dari sebuah kondisi awal dan diterukan ketahap awal yang kemudian akan dimulai lagi dalam urutan yang sama(seketika itu juga atau nanti).
2)      Berikutnnya muncul beragam regulasi yang membedakan ritme-ritme awal berdasarkan banyaknnya skema. Bentuk paling umum  dari regulasi-regulasi ini adalah pengendalian dengan perabaan yang masuk kedalam pembentukan kebiasaan pertama dan kedalam tindakan awal kecerdasan. Dengan demikian, regulasi-regulasi ini, modal sibernetik yang melibatkan system putaran atau umpan balik, mencapai suatu semi-refersibilitas, atau semacam refisibilitas lewat efek retroaktif dari perbaikan secara bertahap.
3)      Akhirnnya muncul suatu permulaan refersibilitas, sumber dari”pengoperasian”pikiran masa depan, tetapi telah berfungsi pada level sensorik motorik sama awalnnya dengan pembentukan kelompok perpindahan praktis. Hasil paling langsung dari struktur yang dapat dibalik adalah pembentukan konsep konserfasi atau infarien kelompok.

d.      Aspek afektif reaksi sensorik motorik
Skema kognitif, yang awalnnya berfokus pasa tindakan anak, menjadi cara anak membangun dan melakukan peminggiran dari smesta objektif sama halnnya pada level sensorik motorik yang sama, afektifitas bermula dari tidak adannya diferensiasi antara diri dan lingkungan manusia dan fisik menuju konstruksi suatu kelompok pertukaran atau investasi emosional yang mengikat diri yang dibedakan dengan orang lain atau hal lain.
Namun demikian,meneliti afektifitas bayi  jauh lebih sukar dibandingkan dalam mengkaji fungsi kognitifnnya karena resiko merfisme orang dewasa jauh lebih besar di area ini. Hampir di semua penelitian  yang berorientasi psikoanalitis dan sudah sejak lama dibatasi pada rekonstruksi tahapan awal dalam kehidupan emosional anak yang berhubungan anak yang berhubungan dengan psikotopatologi orang dewasa. Namun, R.Spitz, K.Wolf, dan Th.Gouin Decarieq telah memakai prosedur eksperimental untuk membantu dalam psikoanalis bayi dan riset mutahir S.Escalona, yang inspirasinnya bersifat psikoanalitis dan lewinial, menghancurkan batasan dari definisi Freudian dan menjangkau level analisis dan objektif.
Dalam membicarakan perkembangan motorik anak, akan dibicarakan tentang ciri-ciri motorik anak, yang pada umumnya melalui empat tahap. Yaitu :
1)      Gerakan-gerakannya tidak disadari, tidak disengaja, dan tanpa arah. Gerakan anak pada masa ini semata-mata hanya oleh karena adanya dorongan dari dalam. Misalnya anak menggerak gerakkan kaki dan tangannya, memasukkan tangankemulut, mengedipkan mata dan gerak-gerak yang lain, yang tidak disebabkan oleh adanya rangsang dari luar.
2)      Gerakan-gerakan anak itu tidak khas. Artinya gerakan yang timbul, yang disebabkan oleh perangsang tidak sesuai dengan perangsangnya. Misalnya bila sianak diletakkan ditangannya sesuai benda,maka benda itu dipegangnya tidak sesuai dengan kegunaan benda tersebut, sehingga bagi orang dewasa nampak sebagai sesuatu gerakan yang bodoh.
3)      Gerakan-gerakan anak itu dilakukan dengan masal. Artinya hamper seluruh tubuhnya ikut bergerak untuk mereaksi perangsang yang datang dari luar. Misalnya, bila kepadanya diberikan sebuah bola, maka bola itu diterima dengan keduatangan dan kedua kakinya sekaligus.
4)      Gerakan-gerakan anak itu disertai gerakan-gerakan lain, yang sebenarnya tidak diperlukan.[10]
 Didalam perkembangan selanjutnya gerakan-gerakan itu makin lama makin terdiferensiasi, artinya hanya bagian tubuh tertentu saja yang bergerak. Dan itu pun bila ada perangsang yang mengenalnya. Misalnya bila pada bibirnya disentuhkan sesuatu, maka hanya bibir itu saja yang bergerak. Bila kepadanya dipancarkan cahaya yang mengenaimatanya, ia pun hanya berkedip-kedip karena silau, dan sebagainya. Inilah satu tanda bahwa perkembangan adalah suatu proses diferensiasi.
Sesudah agak besar, maka Nampak bahwa gerakan-gerakan anak itu tidak lagi hanya oleh karena dorongan daridalam, melainkan gerakan-gerakan itu sudah dikuasai. Tentu saja hal ini adalah oleh karena gerakan-gerakan itu telah dibantu oleh hasil perkembangan-perkembangan yang lain, misalnya dibantu oleh perkembangan alat indra, dibantu perkembangan keseimbangan, dan sebagainya.[11]
Tumbuh kembang anak dari segi Motorik, contoh yang paling nyata dari tumbuh kembang anak dari segi motoriknya adalah bergerak, dalam aktifitas sehari-hari anak akan melakukan gerakan yang akan memanfaatkan semua anggota badannya, hal ini akan menunjukkan suatu bentuk kemajuan motorikkasar pada si anak, beserta gerak motorik halus. Gerakan gerakan ini menyebabkan anak pada saat usia seperti ini sangat banyak melakukan aktifitas untuk bermain oleh sebab itu dikatakan juga masa pra sekolah atau disebut masa bermain.
 • Gerakan Mata, pada saat dimasa anak berusia 2 bulan ia akan mampu menoleh untuk melihat benda-benda yang ada disekitarnya dengan menoleh kekiri atau kekanan. Kemudian di usia 4 bulan akan mampumengontrol gerakan mata dengan lebih baik.
 • Mengangkat kepala, pada usia anak ketika mencapai usia 6 bulan anak akan mencoba mengangkat bagian tubuhnya yaitu pada bagian kepala.
 • Gerakan Tangan Dan Lengan, masa menjangkau benda sudah dapat dilakukan anak pada saat usia 4 bulan, usia 6 bulan anak akan mampumenggapai serta mengambil benda-benda, dan mampu memukul-mukul sesuatu bahkan melemparkan sesuatu kepada orang lain, di masanya yang ke 9 bulan bayi akan mampu untuk menjemput ataupun ia akan mampu memetik.
 • Duduk, ini akan terjadi pada saat usia 6-7 bulan
 • Merangkak, 6-8 bulan anak akan belajar merangkak , sekitar usia 9-11 bulan akan bisa melakukannya dengan sangat baik.
 • Berdiri, usia 10 bulan anak akan mampu berdiri dengan bertumpu pada benda-benda tertentu. Barulah mampu berdiri tanpa bantuan apa pun.
 • Berjalan, 15-18 bulan anak akan mampu berjalan dengan baik diawali dengan merangkak kemudian berdiri dan berjalan dengan bertumpu pada tembok baru kemudian mampu berjalan dengan sempurna.


4. Perkembangan Kognitif
Tahap paling awal perkembangan kognitif terjadi pada waktu bayi lahir sampai sekitar berumur 2 tahun. Tahap ini disebut tahap sensorimotor oleh Piaget. Pada tahap sensorimotor, intelegensi anak lebih didasarkan pada tindakan inderawi anak terhadap lingkungannya, seperti melihat, meraba, menjamak, mendengar, membau (mencium) dan lain-lain. Pada tahap sensorimotor, gagasan anak mengenai suatu benda berkembang dari periode “belum mempunyai gagasan” menjadi “ sudah mempunyai gagasan”. Gagasan mengenai benda sangat berkaitan dengan konsep anak tentang ruang dan waktu yang juga belum terakomodasi dengan baik. Struktur ruang dan waktu belum jelas dan masih terpotong-potong, belum dapat disistematisir dan diurutkan dengan logis.
Menurut Piaget, mekanisme perkembangan sensorimotor ini menggunakan proses asimilasi dan akomodasi. Tahap-tahap perkembangan kognitif anak dikembangkan dengan perlahan-lahan melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema-skema anak karena adanya masukan, rangsangan, atau kontak dengan pengalaman dan situasi yang baru.
Piaget membagi tahap sensorimotor dalam enam periode, yaitu: [12]
a.       Periode 1 : Refleks (umur 0 – 1 bulan)
Periode paling awal tahap sensorimotor adalah periode refleks. Ini berkembang sejak bayi lahir sampai sekitar berumur 1 bulan. Pada periode ini, tingkah laku bayi lebih banyak bersifat refleks, spontan, tidak disengaja, dan tidak terbedakan. Tindakan seorang bayi didasarkan pada adanya rangsangan dari luar yang ditanggapi secara refleks.
Tabel 1. Reflek awal manusia:
Refleks
stimulasi
Perilaku bayi
Usia munculnya refleks
Usia hilangnya refleks
moro
Bayi dijatuhkan atau mendengar suara yang keras
Menjulurkan lengan, tangan, jari, melengkungkan badan, menarik kepala ke belakang
Bulan ke tujuh kehamilan
3 bulan
Darwinian (menggenggam)
Tekanan pada telapak tangan bayi
Membuat tinju yang kuat
Bulan ke tujuh kehamilan
4 bulan
Tonic neck
Bayi dibaringkan telentang
Menolehkan kepalanya ke satu sisi, agak menengadah.
7 bulan usia kehamilan
5 bulan
babkin
Tekanan pada kedua tapak bayi secara sekaligus
Mulut terbuka, mata tertutup, leher mengerut, dan kepala bergoyang ke depan
lahir
3 bulan
babinski
Tekanan pada telapak kaki bayi
Jempol terangkat, kaki tertarik
lahir
4 bulan
rooting
Tekanan dengan menggunakan jari pada pipi atau bibir bayi
Kepala berputar, mulut terbuka, gerakan menghisap dimulai
lahir
9 bulan
walking
Bayi di gendong dengan kaki menyentuh permukaan datar
Membuat gerakan seperti berjalan, yang tampak seperti berjalan yang terkoordinasi dengan baik
1 bulan
4 bulan
swimming
Bayi diletakkan ke dalam air dengan posisi muka menghadap ke bawah
Membuat gerakan berenang yang terkoordinasi dengan baik
1 bulan
4 bulan

b.      Periode 2 : Kebiasaan (umur 1 – 4 bulan)
Pada periode perkembangan ini, bayi mulai membentuk kebiasan-kebiasaan awal. Kebiasaan dibuat dengan mencoba-coba dan mengulang-ngulang suatu tindakan. Refleks-refleks yang dibuat diasimilasikan dengan skema yang telah dimiliki dan menjadi semacam kebiasaan, terlebih dari refleks tersebut menghasilkan sesuatu. Pada periode ini, seorang bayi mulai membedakan benda-benda di dekatnya. Ia mulai mengadakan diferensiasi akan macam-macam benda yang dipegangnya. Pada periode ini pula, koordinasi tindakan bayi mulai berkembang dengan penggunaan mata dan telinga. Bayi mulai mengikuti benda yang bergerak dengan matanya. Ia juga mulai menggerakkan kepala ke sumber suara yang ia dengar. Suara dan penglihatan bekerja bersama. Ini merupakan suatu tahap penting untuk menumbuhkan  konsep benda.
c.       Periode 3 : Reproduksi kejadian yang menarik (umur 4 – 8 bulan)
Pada periode ini, seorang bayi mulai menjamah dan memanipulasi objek apapun yang ada di sekitarnya (Piaget dan Inhelder 1969). Tingkah laku bayi semakin berorientasi pada objek dan kejadian di luar tubuhnya sendiri. Ia menunjukkan koordinasi antara penglihatan dan rasa jamah (perabaan). Pada periode ini, seorang bayi juga menciptakan kembali kejadian-kejadian yang menarik baginya. Ia mencoba menghadirkan dan mengulang kembali peristiwa yang menyenangkan diri (reaksi sirkuler sekunder). Piaget mengamati bahwa bila seorang anak dihadapkan pada sebuah benda yang dikenal, seringkali hanya menunjukkan reaksi singkat dan tidak mau memperhatikan agak lama. Oleh Piaget, ini diartikan sebagai suatu “pengiyaan” akan arti benda itu seakan ia mengetahuinya.

d.      Periode 4 : Koordinasi Skemata (umur 8 – 12 bulan)
Pada periode ini, seorang bayi mulai membedakan antara sarana dan hasil tindakannya. Ia sudah mulai menggunakan sarana untuk mencapai suatu hasil. Sarana-sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan atau hasil diperoleh dari koordinasi skema-skema yang telah ia ketahui. Bayi mulai mempunyai kemampuan untuk menyatukan tingkah laku yang sebelumnya telah diperoleh untuk mencapai tujuan tertentu. Pada periode ini, seorang bayi mulai membentuk konsep tentang tetapnya (permanensi) suatu benda. Dari kenyataan bahwa dari seorang bayi dapat mencari benda yang tersembunyi, tampak bahwa ini mulai mempunyaikonsep tentang ruang.
e.       Periode 5 : Eksperimen (umur 12 – 18 bulan)
Unsur pokok pada periode ini adalah mulainya anak mengembangkan cara-cara baru untuk mencapai tujuan dengan cara mencoba-coba (eksperimen) bila dihadapkan pada suatu persoalan yang tidak dipecahkan dengan skema yang ada, anak akan mulai mecoba-coba dengan Trial and Error untuk menemukan cara yang baru guna memecahkan persoalan tersebut atau dengan kata lain ia mencoba mengembangkan skema yang baru. Pada periode ini, anak lebih mengamati benda-benda disekitarnya dan mengamati bagaimana benda-benda di sekitarnya bertingkah laku dalam situasi yang baru. Menurut Piaget, tingkah anak ini menjadi intelegensi sewaktu ia menemukan kemampuan untuk memecahkan persoalan yang baru. Pada periode ini pula, konsep anak akan benda mulai maju dan lengkap. Tentang keruangan anak mulai mempertimbangkan organisasi perpindahan benda-benda  secara menyeluruh bila benda-benda itu dapat dilihat secara serentak.
f.       Periode Representasi (umur 18 – 24 bulan)
Periode ini adalah periode terakhir pada tahap intelegensi sensorimotor. Seorang anak sudah mulai dapat menemukan cara-cara baru yang tidak hanya berdasarkan rabaan fisis dan eksternal, tetapi juga dengan koordinasi internal dalam gambarannya. Pada periode ini, anak berpindah dari periode intelegensi sensori motor ke intelegensi representatif. Secara mental, seorang anak mulai dapat menggambarkan suatu benda dan kejadian, dan dapat menyelesaikan suatu persoalan dengan gambaran tersebut. Konsep benda pada tahap ini sudah maju, representasi ini membiarkan anak untuk mencari dan menemukan objek-objek yang tersembunyi. Sedangkan dalam konsep keruangan, anak mulai sadar akan gerakan suatu benda sehingga dapat mencarinya secara masuk akal bila benda itu tidak kelihatan lagi.
1)      Karakteristik anak  yang berada pada tahap ini adalah sebagai berikut:
2)      Berfikir melalui perbuatan (gerak),
3)      Perkembangan fisik yang dapat diamati adalah gerak-gerak refleks sampai ia dapat berjalan dan berbicara,
4)      Belajar mengkoordinasi akal dan geraknya,
5)      Cenderung intuitif egosentris, tidak rasional dan tidak logis.
Coba bayangkan, sejak umur 0-2 tahun saja anak sudah ’sepintar’ itu. Bagaimana jika Ia diberikan stimulasi yang sangat baik dari orang tuanya (dan juga orang-orang disekitarnya) hingga ia berusia lebih besar lagi.
6 Perkembangan Psikososial
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama.
Anak dilahirkan belum bersifat sosial. Dalam arti, dia belum memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang lain. Untuk mencapai kematangan sosial, anak harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh oleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkungannya, yaitu orang tua, saudara, dll.[13] Pengaruh yang paling signifikan yaitu lingkungan dan orang tua anak. Dimana anak tiap saat bergaul dengan mereka.
Perkembaangan sosial bayi yang baru lahir, tidaklah seperti orang dewasa, bayi perlu beradaptasi dengan lingkungan skitarnya, bayi sering kali meniru gaya sesuatu yang dilihatnya misal: orang tua, teman-temannya, orang sekelilingnya, dan lingkungan sekitarnya.
Pengalaman sosial yang dini memainkan peranan yang penting dalam menentukan hubungan sosial di masa depan dan pola prilaku terhadap orang-orang lain. Dan karena kehidupan bayi berpusat disekitar rumah, maka dirumahlah diletakkan dasar prilaku dan sikap sosialnya kelak. Terdapat sedikit bukti yang menyatakan bahwa sikap sosial atau antisosial merupakan sikap bawaan.
Perkembangan psikososial bayi dimulai pada usia 1-2 bulan memperlihatkan rasa senang-nyaman berdekatan dengan orang yang dikenal. Pada usia 2-3 tahun bayi dapat membedakan manusia dari benda mati dan bayi tahu bahwa manusialah yang memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Bayi merasa nyaman dan puas bila bersama manusia dan tidak senang kalau ditinggal sendirian. Pada usia ini bayi tidak menunjukkan rasa lebih menyukai satu orang tertentu dibandingkan dengan orang lain. Pada usia 4-5 bulan bayi ingin digendong oleh siapa saja yang mendekatinnya. Ia memberikan reaksi yang berbeda kepada wajah-wajah yang tersenyum, suara-suara yang ramah dan suara-suara yang menunjukkan amarah. Pada usia 6-7 bulan bayi membedakan antar “teman dan “orang asing” dengan tersenyum pada orang yang pertama(teman) dan memperlihatkan ketakutan pada orang yang terakhir(orang asing). Pada usia 8-9 bulan bayi mencoba meniru kata-kata, isyarat dan gerakan-gerakan sederhana dari orang lain. Pada usia 9-10 bulan mulai lepas dari pengasuhnya karena sudah dapat merangkak atau meraih sesuatu. Pada usia 12 bulan bayi bereaksi terhadap larangan ”jangan-jangan” . Pada Usia 1 tahun tampak interaktif rasa aman dengan ibu atau pengasuhnya dan usia 2 tahun mulai mengikuti perbuatan.[14]Tetapi, tidak semua bayi sesuai dengan urutan-urutan perkembangan diatas. Dikarenakan adanya faktor penghambat perkembangan bayi tersebut seperti halnya Adanya gangguan psikologi bayi, hal ini kemungkinan menjadikan anak akan cendrung terlambat pertumbuhannya. Adanya gangguan ini perlu mendapatkan perhatian orang tua, karena orang tua sangat penting untuk tumbuh kembang bayi,
Ciri pokok perkembangannya anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek


C. PENUTUP
1. Proses Persalinan
Vaginal childbirth terjadi dalam empat tahap yang saling berkaitan. Bagi wanita yang baru pertama kali melahirkan, tahap pertama yang terpanjang, biasanya kurang lebih sekitar 12 jam.
Tahap kedua, biasanya berlangsung sekitar 1 ½ jam atau lebih. Pada tahap ini dimulai ketika kepala bayi mulai bergerak melalui cervix ke lubang vagina. Dan berkhir ketika si bayi keluar dari tubuh ibunya secara utuh.
Sepanjang tahap ketiga, yang berlangsung sekitar 5 sampai 30 menit, plasenta dan tali pusar yang masih tersisa dikeluarkan dari tubuh ibu. Beberapa jam setelah persalinan merupakan tahap keempat, pemulihan si ibu terus dipantau ketika ibu beristirahat.
2. Perkembangan fisik                                 
Kenaikan suatu berat badan, pada anak dimasa 3 bulan yang pertama, mengalami kenaikan pada berat badannya yang mencapai seberat 30 gram sehari, namun pada saat si anak mencapai umur kisaran 6 bulan pertama berat badan pada sianak akan kembali meningkat sehingga bertambah menjadi 0,5 kg per setiap bulannya.
Gigi, Pada pertumbuhan gigi ini umumnya diawali dengan pertumbuhan gigi seri tengah yang pertama tumbuh pada usia 16-18 bulan
Tulang Belulang, Pada mula-mula keadaan tulang belulang bayi belum stabil atau sekuat seperti kita pada saat sekarang ini.
Ukuran Kepala, Pada saat anak baru terlahir ukuran kepala si anak mencapai, 35 cm, kemudian bertambah menjadi 1-2 cm setiap bulannya lalusampai usia 4 bulan pertama, kemudian bertambah ukurannya menjadi 5 cm pada masa sisi tahun yang pertama.
 Pertumbuhan Otot, Pada anak-anak pertumbuhan otot sangatlah signifikan, oleh karena itu anak membutuhkan protein yang sangat banyak.


3. Perkembangan Motorik
 • Gerakan Mata, pada saat dimasa anak berusia 2 bulan ia akan mampu menoleh untuk melihat benda-benda yang ada disekitarnya dengan menoleh kekiri atau kekanan. Kemudian di usia 4 bulan akan mampumengontrol gerakan mata dengan lebih baik.
 • Mengangkat kepala, pada usia anak ketika mencapai usia 6 bulan anak akan mencoba mengangkat bagian tubuhnya yaitu pada bagian kepala.
 • Gerakan Tangan Dan Lengan, masa menjangkau benda sudah dapat dilakukan anak pada saat usia 4 bulan, usia 6 bulan anak akan mampumenggapai serta mengambil benda-benda, dan mampu memukul-mukul sesuatu bahkan melemparkan sesuatu kepada orang lain, di masanya yang ke 9 bulan bayi akan mampu untuk menjemput ataupun ia akan mampu memetik.
 • Duduk, ini akan terjadi pada saat usia 6-7 bulan
 • Merangkak, 6-8 bulan anak akan belajar merangkak , sekitar usia 9-11 bulan akan bisa melakukannya dengan sangat baik.
 • Berdiri, usia 10 bulan anak akan mampu berdiri dengan bertumpu pada benda-benda tertentu. Barulah mampu berdiri tanpa bantuan apa pun.
 • Berjalan, 15-18 bulan anak akan mampu berjalan dengan baik diawali dengan merangkak kemudian berdiri dan berjalan dengan bertumpu pada tembok baru kemudian mampu berjalan dengan sempurna.
4.Perkembangan Kognitif
Tahap paling awal perkembangan kognitif terjadi pada waktu bayi lahir sampai sekitar berumur 2 tahun. Tahap ini disebut tahap sensorimotor oleh Piaget.
Piaget membagi tahap sensorimotor dalam enam periode, yaitu:
1.      Periode 1 : Refleks (umur 0 – 1 bulan)
2.      Periode 2 : Kebiasaan (umur 1 – 4 bulan)
3.      Periode 3 : Reproduksi kejadian yang menarik (umur 4 – 8 bulan)
4.      Periode 4 : Koordinasi Skemata (umur 8 – 12 bulan)
5.      Periode 5 : Eksperimen (umur 12 – 18 bulan)
6.      Periode Representasi (umur 18 – 24 bulan)


5.Perkembangan Psikososial
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi
Perkembangan psikososial bayi dimulai pada usia 1-2 bulan memperlihatkan rasa senang-nyaman berdekatan dengan orang yang dikenal. Pada usia 2-3 tahun bayi dapat membedakan manusia dari benda mati dan bayi tahu bahwa manusialah yang memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Bayi merasa nyaman dan puas bila bersama manusia dan tidak senang kalau ditinggal sendirian. Pada usia ini bayi tidak menunjukkan rasa lebih menyukai satu orang tertentu dibandingkan dengan orang lain. Pada usia 4-5 bulan bayi ingin digendong oleh siapa saja yang mendekatinnya. Ia memberikan reaksi yang berbeda kepada wajah-wajah yang tersenyum, suara-suara yang ramah dan suara-suara yang menunjukkan amarah. Pada usia 6-7 bulan bayi membedakan antar “teman dan “orang asing” dengan tersenyum pada orang yang pertama(teman) dan memperlihatkan ketakutan pada orang yang terakhir(orang asing). Pada usia 8-9 bulan bayi mencoba meniru kata-kata, isyarat dan gerakan-gerakan sederhana dari orang lain. Pada usia 9-10 bulan mulai lepas dari pengasuhnya karena sudah dapat merangkak atau meraih sesuatu. Pada usia 12 bulan bayi bereaksi terhadap larangan ”jangan-jangan” . Pada Usia 1 tahun tampak interaktif rasa aman dengan ibu atau pengasuhnya dan usia 2 tahun mulai mengikuti perbuatan









DAFTAR RUJUKAN
Hurlock, Elizabeth B. 1997.Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga
Kartono, Kartini. 1995. Psikologi Anak. Bandung: Mandar Maju
Nuryanti, Lusi. 2008. Psikologi Anak. Jakarta: PT Indeks
Papalia, Diane E. dkk. 2008. Human Development. Jakarta: Kencana
Piaget, Jean & barber inhelder. 2010. Psikologi Anak. Jogjakarta: Pustaka Belajar
Rumini,Sri dan Siti Sundari.2004.Perkembangan Anak Dan Remaja.Jakarta: PT.Asdi mahatsya.
Sujanto, Agus. 1986. Psikologi Perkembangan. Surabaya: Aksara Baru.
Widyastuti,Danis dan Retna Widyari. 2001. Perkembangan Anak 0-1 Tahun. Jakarta: Puspa Suara.
Yusuf , Syamsu LN. 2006. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Cet VII


[1] Diane E.papalia, dkk. 2008. Human Development. Jakarta: kencana. Hlm.146-147
[2] Ibid, hlm 151
[3] Elizabeth B hurlock. 1997. Perkembangan anak. Jakarta : erlangga. Hlm 118
[4] Diane papalia Opcit., Hlm 153
[5] Ibid, hlm 185
[6] Elizabeth B hurlock. 1997. Perkembangan anak. Jakarta : erlangga. Hlm. 97
[7] Diane papalia, OpCit. hlm 186
[8]  Jean Piaget. 2010. Psikologi ANAK. Hal: 5
[9] Ibid. Hal: 8
[10] Drs. Agus Sujanto. 1986. Psikologi Perkembangan. Hal: 26
[11] Ibid. Hal: 27
[12] Piaget dan vigotski, tahap-tahap sensorimotorik. 2011
[13] Dr.H. Syamsu Yusuf LN. 2006. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya.. Cet VII
[14] Elizabeth B. Hurlock. Psikologi Perkembangan. Jakarta:Erlangga.1980. Cet IV

Entri Populer